Suatu hari, seorang teman memposting cerita di group WA,
tentang seorang mahasiswa dari kampung yang mengejar sukses di kota besar.
Pingsan dijalan dan dikira orang mabuk, mencuri singkong untuk bertahan hidup
hingga sekarang mahasiswa tersebut sudah sukses. Jepang, china, Thailand,
Vietnam seperti Balamoa –Banjaran buat dia. Ada beberapa kemiripan dengan
pengalamanku, ternyata benar dia sedang menceritakan aku. Hanya saja, mungkin
cerita yang ditulisnya terlalu berlebihan. Aku tak tahu dia dapat cerita itu
dari mana, sebab ketika kutanya dia tak memberitahuku dari mana cerita itu dia
dengar. Tapi tentu saja aku bias mengira, karena cerita itu hanya aku tuturkan
pada satu orang.
###
Sebenarnya cerita tersebut berawal dari kepindahanku ke
kontrakan baru, bertepatan dengan datangnya krisis moneter di Indonesia. Sebuah
rumah petak ukuran kurang lebih 3,5 x 3,5 meter dengan pagar setinggi kurang
lebih 1,5 meter. Ada tanah kosong di area tersebut yang oleh pemilik kontrakan
ditanami pisang dan pohon singkong. Sementara di pintu masuk kontrakan, sebuah
toko kelontong yang dijagain oleh Vivi, anak pemilik kontakan kadang juga
adiknya.
Rumah pemilik kontrakan kira-kira 700 meter jauhnya.
Kontrakan berada di pangkalan truck, sehingga ada beberapa kamar yang dihuni
oleh supir-supir truck, tapi karena mereka punya keluarga maka kontrakan hanya
sebagai tempat menginap sementara saja saat mereka istirahat dalam pengiriman
barang.
Suasananya berbeda dengan kontrakan sebelumnya. Kontrakan
baru lebih bebas. Minuman, ganja, perempuan dan yang lainnya tidak terlalu
dipermasalahkan pemilik kontrakan. Pada saat itu awalnya aku tinggal sendirian.
Suatu hari aku berkenalan dengan Yasin, mahasiswa dari Medan. Ia tinggal di pos
satpam, hanya dengan tas dan beberapa buku. Maklum, ia tak memiliki uang untuk
kost atau menyewa kontrakan. Akhirnya aku minta Yasin untuk tinggal bersamaku,
tetapi untuk urusan makan masing-masing saja.
Kemudian Iwan, mahasiswa teknik mesin kakak angkatan juga
akhirnya aku tamping di kontrakanku. Akhirnya kontrakanku jadi penuh oleh
Mahasiswa yang terancam DO dan buruh yang di PHK.
Yasin kalau sore narik becak di gang, malamnya kuliah. Dia
juga memelihara ikan-ikan kecil di ember untuk dijual. Praktis kontakanku
banyak ember berisi air. Tak apalah,,, buat bertahan hidup.
Saat itu hanya aku yang masih bekerja dan memiliki
penghasilan tetap, namun tentu saja tidak cukup untuk makan kami semua. Kalau
jam makan siang di perusahaan, aku sering teringat teman-temanku. Apakah mereka
sudah makan ?
Suatu hari, pacar Iwan berantem dengan keluarganya. Akhirnya
kabur dan tinggal di kontrakanku juga. Hwaaaa,,,, makin sempit. Keuangan makin
sulit. Tapi ada untungnya, ceweknya bisa masak sehingga justru bisa menghemat.
Secara finansial itu adalah saat-saat tersulit dalam
hidupku. Beberapa kali, kami terpaksa mencuri singkong yang ditanam pemilik
kontrakan, bukan dengan mencabutnya tapi dengan menggali dan memotong umbinya.
Pohon singkong tetap hidup. Wakakakakakakakkkkk
Sabtu minggu kami pernah coba keliling kompleks perumahan buat
ngamen, alhamdulillah bisa buat makan. Kalau buat ngamen di jalan, kami nggak
berani karena setiap wilayah ada yang menguasai saat itu.
Terkadang kami harus
menahan lapar seharian,,, atau mencuri bahan bakar minyak dari truck yang
terparkir di pangkalan truck. Beberapa kali aku tak bisa tidur karena lapar,
akhirnya keluar dan makan daun singkong mentah. Tentu saja rasanya nggak enak,
tapi bagaimana lagi…?
Saat yang berat adalah saat aku sakit. Saat itu tak
seorangpun di kontrakan, sehingga aku berniat untuk pergi berobat seorang diri.
Rupanya jalan kaki keluar gang aja aku nggak kuat dan akhirnya ndlosor di
pinggir jalan. Karena daerah tersebut pangkalan truck dan banyak orang mabuk,
mungkin orang mengira aku juga jatuh karena mabuk. Mau nggak mau aku istirahat
sejenak dan kembali ke kontrakan. Sorenya Yasin pulang dan membelikanku obat.
Rupanya Iin, anak Pak RT mendekatiku. Mengetahui keadaan
kami, dia sering membawakan makanan ke kontrakan. Dilain pihak, Vivi ternyata
cemburu. Suatu siang, Vivi ketahuan merokok di toko yang sepi, aku menegornya.
Akhirnya dia cerita dan nggak ingin aku dekat dengan Iin. Padahal teman-teman
cowokku justru minta aku dekat dengan Iin. Aku sendiri jujur belum bisa
melupakan Sy.
Persaingan Iin dan Vivi dimulai, masing masih dengan caranya
berusaha mendekatiku. Keduanya sama-sama masih SMA. Suatu hari seorang bapak datang
ke kontrakkanku, mau jual kaset lagu barat. Alasannya buat beli beras. Saat itu
aku sedang mengerjakan tugas dengan computer. Karena kasihan aku beli kaset
Evergreen tersebut. Si Bapak juga minta anaknya diajarin computer dan aku nggak
masalah. Sorenya anaknya datang ke kontrakan untuk belajar. Rupanya masih SMA
juga, perempuan juga. Makin runyam jadinya.
Akhirnya aku undang semua orang, buat acara masak dan
makan-makan di kontrakanku. Semua datang. Aku pergi dan pulang membawa seorang
perempuan cantik, tinggi dan anggun. Namanya Era, aku kenalkan mereka sebagai
pacarku. Tak ada yang tahu, sebenarnya Era adalah bulikku, saudaraku dari Tegal
yang kebetulan usianya dibawahku.
Sejak perkenalan itu, semuanya mundur teratur. Tapi tak ada
makanan lagi yang dianterin ke kontrakanku,,, kasihan teman-temanku. Tapi aku
juga nggak mau memanfaatkan orang lain. Apakah saat itu tidak ada permpuan yang menarik perhatianku ? Tentu saja ada. Tapi dalam keadaan seperti itu aku nggak
berani bermimpi memiliki pacar. Aku takut tak bisa membahagiakannya nanti, sampai beberapa tahun kemudian aku kenal Rona.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar