Rabu, Juni 1

Cerita 2: Kontrakan Baru



Suatu hari, seorang teman memposting cerita di group WA, tentang seorang mahasiswa dari kampung yang mengejar sukses di kota besar. Pingsan dijalan dan dikira orang mabuk, mencuri singkong untuk bertahan hidup hingga sekarang mahasiswa tersebut sudah sukses. Jepang, china, Thailand, Vietnam seperti Balamoa –Banjaran buat dia. Ada beberapa kemiripan dengan pengalamanku, ternyata benar dia sedang menceritakan aku. Hanya saja, mungkin cerita yang ditulisnya terlalu berlebihan. Aku tak tahu dia dapat cerita itu dari mana, sebab ketika kutanya dia tak memberitahuku dari mana cerita itu dia dengar. Tapi tentu saja aku bias mengira, karena cerita itu hanya aku tuturkan pada satu orang.

###
 
Sebenarnya cerita tersebut berawal dari kepindahanku ke kontrakan baru, bertepatan dengan datangnya krisis moneter di Indonesia. Sebuah rumah petak ukuran kurang lebih 3,5 x 3,5 meter dengan pagar setinggi kurang lebih 1,5 meter. Ada tanah kosong di area tersebut yang oleh pemilik kontrakan ditanami pisang dan pohon singkong. Sementara di pintu masuk kontrakan, sebuah toko kelontong yang dijagain oleh Vivi, anak pemilik kontakan kadang juga adiknya.

Rumah pemilik kontrakan kira-kira 700 meter jauhnya. Kontrakan berada di pangkalan truck, sehingga ada beberapa kamar yang dihuni oleh supir-supir truck, tapi karena mereka punya keluarga maka kontrakan hanya sebagai tempat menginap sementara saja saat mereka istirahat dalam pengiriman barang.

Suasananya berbeda dengan kontrakan sebelumnya. Kontrakan baru lebih bebas. Minuman, ganja, perempuan dan yang lainnya tidak terlalu dipermasalahkan pemilik kontrakan. Pada saat itu awalnya aku tinggal sendirian. 

Suatu hari aku berkenalan dengan Yasin, mahasiswa dari Medan. Ia tinggal di pos satpam, hanya dengan tas dan beberapa buku. Maklum, ia tak memiliki uang untuk kost atau menyewa kontrakan. Akhirnya aku minta Yasin untuk tinggal bersamaku, tetapi untuk urusan makan masing-masing saja.

Kemudian Iwan, mahasiswa teknik mesin kakak angkatan juga akhirnya aku tamping di kontrakanku. Akhirnya kontrakanku jadi penuh oleh Mahasiswa yang terancam DO dan buruh yang di PHK.
Yasin kalau sore narik becak di gang, malamnya kuliah. Dia juga memelihara ikan-ikan kecil di ember untuk dijual. Praktis kontakanku banyak ember berisi air. Tak apalah,,, buat bertahan hidup.

Saat itu hanya aku yang masih bekerja dan memiliki penghasilan tetap, namun tentu saja tidak cukup untuk makan kami semua. Kalau jam makan siang di perusahaan, aku sering teringat teman-temanku. Apakah mereka sudah makan ?

Suatu hari, pacar Iwan berantem dengan keluarganya. Akhirnya kabur dan tinggal di kontrakanku juga. Hwaaaa,,,, makin sempit. Keuangan makin sulit. Tapi ada untungnya, ceweknya bisa masak sehingga justru bisa menghemat.

Secara finansial itu adalah saat-saat tersulit dalam hidupku. Beberapa kali, kami terpaksa mencuri singkong yang ditanam pemilik kontrakan, bukan dengan mencabutnya tapi dengan menggali dan memotong umbinya. Pohon singkong tetap hidup. Wakakakakakakakkkkk

Sabtu minggu kami pernah coba keliling kompleks perumahan buat ngamen, alhamdulillah bisa buat makan. Kalau buat ngamen di jalan, kami nggak berani karena setiap wilayah ada yang menguasai saat itu.

Terkadang kami harus menahan lapar seharian,,, atau mencuri bahan bakar minyak dari truck yang terparkir di pangkalan truck. Beberapa kali aku tak bisa tidur karena lapar, akhirnya keluar dan makan daun singkong mentah. Tentu saja rasanya nggak enak, tapi bagaimana lagi…?

Saat yang berat adalah saat aku sakit. Saat itu tak seorangpun di kontrakan, sehingga aku berniat untuk pergi berobat seorang diri. Rupanya jalan kaki keluar gang aja aku nggak kuat dan akhirnya ndlosor di pinggir jalan. Karena daerah tersebut pangkalan truck dan banyak orang mabuk, mungkin orang mengira aku juga jatuh karena mabuk. Mau nggak mau aku istirahat sejenak dan kembali ke kontrakan. Sorenya Yasin pulang dan membelikanku obat.

Rupanya Iin, anak Pak RT mendekatiku. Mengetahui keadaan kami, dia sering membawakan makanan ke kontrakan. Dilain pihak, Vivi ternyata cemburu. Suatu siang, Vivi ketahuan merokok di toko yang sepi, aku menegornya. Akhirnya dia cerita dan nggak ingin aku dekat dengan Iin. Padahal teman-teman cowokku justru minta aku dekat dengan Iin. Aku sendiri jujur belum bisa melupakan Sy.

Persaingan Iin dan Vivi dimulai, masing masih dengan caranya berusaha mendekatiku. Keduanya sama-sama masih SMA. Suatu hari seorang bapak datang ke kontrakkanku, mau jual kaset lagu barat. Alasannya buat beli beras. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas dengan computer. Karena kasihan aku beli kaset Evergreen tersebut. Si Bapak juga minta anaknya diajarin computer dan aku nggak masalah. Sorenya anaknya datang ke kontrakan untuk belajar. Rupanya masih SMA juga, perempuan juga. Makin runyam jadinya. 

Akhirnya aku undang semua orang, buat acara masak dan makan-makan di kontrakanku. Semua datang. Aku pergi dan pulang membawa seorang perempuan cantik, tinggi dan anggun. Namanya Era, aku kenalkan mereka sebagai pacarku. Tak ada yang tahu, sebenarnya Era adalah bulikku, saudaraku dari Tegal yang kebetulan usianya dibawahku.

Sejak perkenalan itu, semuanya mundur teratur. Tapi tak ada makanan lagi yang dianterin ke kontrakanku,,, kasihan teman-temanku. Tapi aku juga nggak mau memanfaatkan orang lain. Apakah saat itu tidak ada permpuan yang menarik perhatianku ? Tentu saja ada. Tapi dalam keadaan seperti itu aku nggak berani bermimpi memiliki pacar. Aku takut tak bisa membahagiakannya nanti, sampai beberapa tahun kemudian aku kenal Rona. 

Esok akan kuceritakan tentang Rona.