Untuk beberapa hari kedepan aku ingin menulis pengalamanku selepas SMA. Tapi karena hari ini lumayan sibuk maka nggak sempet nulis di pagi hari.
Kelas 3 semester akhir aku putuskan untuk undur diri. Banyak
temen-temen yang menganggapku jahat, aku terima itu. Toh percuma aku jelasin.
Cerita jaman SMA, aku tulis di buku harian yang saat ini terselip di rak buku
rumahku. Sayang, beberapa lembar yang berisi perkelahian dan masalah permusuhan
aku telah bakar. Ada penyesalan juga kenapa harus aku bakar,,, toh bisa menjadi
bacaan yang asyik suatu saat nanti.
Sy kuliah di kota S, sementara aku sadar orang tuaku nggak
mungkin bisa biayai kuliahku dan adikku. Satu satunya jalan aku harus kuliah
sambil bekerja agar kami bisa kuliah bersamaan. Aku kerja di kota B, menjadi
buruh pabrik elektronik sambil kuliah.
Awalnya sejak aku SMA aku ingin kuliah di kesenian, tetapi
ada pertentangan dengan keluarga sehingga akhirnya aku coba mengalah, mengambil
teknik mesin. Pergaulanku tetap dengan orang-orang kesenian, dengan para
pelukis di pasar seni ancol dan beberapa pelukis di kota B. Kuliah mungkin
sekedar status, agar nggak minder-minder amat kalau ketemu Sy. Mungkin itulah
yang membuat IPku kecil.
Tahun pertama kuliah nggak ada masalah berarti. Iswanto
memberiku nomor telfon Sy di kota S, kemudian kami jalin komunikasi kembali baik
lewat telfon maupun surat. Perasaan kembali campur aduk jika pulang kerja ada
surat dari kota S.
Itu terjadi pada awal krisis moneter. Tahun 1998, aku
janjian untuk bertemu Sy di kota S. Kebetulan adikku ada keperluan untuk
UMPTN. Karena komunikasi sudah terjalin, aku berniat untuk memperbaiki hubungan
kami.
Sampai di kota S turun di taman makam pahlawan K.B kalau tidak salah. Aku turun dan kulihat Sy. Ada cowok bersamanya,
bertopi. Saat ketemu, kami berjabatan tangan, Sy berbisik “Pr#ngg, kenalin. Iki
gantimu,,,” Lirih tapi terdengar jelas. Aku bingung apa yang harus kulakukan ?
Akhirnya kami berempat pergi, mengurus pendaftaran kuliah adikku. Adikku tahu
aku salah tingkah. Saat naik bis kota, aku sengaja duduk di depan belakang
sopir agar nggak lihat mereka, tetapi rupanya dari spion di atas sopir justru
kemesraan mereka terbingkai.
Seorang pengamen naik dan menyanyikan lagunya Dedy Dorres
“Hilangnya Seorang Gadis”. Perasaanku makin nggak karuan. Akhirnya setelah
urusan selesai aku segera pulang. Saat Sy membelikanku tiket bus, aku minta
waktu sama cowoknya untuk bicara empat mata.
Awalnya kutanya apakah dia tahu siapa aku. Cowok itu
mengangguk. Aku sampaikan, bahwa aku pernah deket sama Sy, tapi karena sekarang
Sy pilih dia aku minta tolong jagain dan bahagiain Sy. Aku tidak akan
mengganggu mereka, Aku Cuma berharap mereka bahagia.
Sampai Sy datang bawa tiket bus, aku terima, berpamitan,
naik dan korden jendela bus aku tutup. Untuk melihat mereka dari kaca jendela aku
nggak kuat. Adikku diam disampingku, diperjalanan baru bertanya tentang Sy. Aku
bilang “Sudahlah,,, mungkin bukan jodohku.” Sampai di kota T bapakku bertanya
juga tentang Sy, dan jawaban yang sama aku berikan.
###
Sebelumnya aku ngontrak di sebelah rumahnya budenya Karmani,
temen SMAku. Ada tetanggaku, anak SMA, cewek yang sering kirim surat ke aku.
Kadang dititipin ibu kost, kadang diselipin di bawah pintu. Beberapa kali ngasih kado, aku kembalikan. Suatu hari Karmani
main ke kota B, dan memanggilku, ngajak ngobrol diruang tamu. Tapi rupanya itu
trik semata, karena tiba-tiba si cewek sudah ada di ruang tamu. Aku langsung
keluar. Malamnya aku dan Karmani bicara. Dia anggap aku
nggak berperasaan, aku jawab seharusnya cewek itu tahu. Karena makin lama makin
risih, akhirnya aku pindah kontrakkan. Tak perlu lagi memberi tahu Sy. Semuanya
sudah berakhir. Aku kalah. Mulai itulah aku benar-benar putus kontak dengan Sy.
Pindah kontrakan baru. Krisis moneter berlanjut. Harga
barang melambung naik. Gaji tidak ada perubahan.
Cerita di kontrakan baru, besok aku tuliskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar