Senin, Mei 30

Cerita 1


Untuk beberapa hari kedepan aku ingin menulis pengalamanku selepas SMA. Tapi karena hari ini lumayan sibuk maka nggak sempet nulis di pagi hari.

Kelas 3 semester akhir aku putuskan untuk undur diri. Banyak temen-temen yang menganggapku jahat, aku terima itu. Toh percuma aku jelasin. Cerita jaman SMA, aku tulis di buku harian yang saat ini terselip di rak buku rumahku. Sayang, beberapa lembar yang berisi perkelahian dan masalah permusuhan aku telah bakar. Ada penyesalan juga kenapa harus aku bakar,,, toh bisa menjadi bacaan yang asyik suatu saat nanti.

Sy kuliah di kota S, sementara aku sadar orang tuaku nggak mungkin bisa biayai kuliahku dan adikku. Satu satunya jalan aku harus kuliah sambil bekerja agar kami bisa kuliah bersamaan. Aku kerja di kota B, menjadi buruh pabrik elektronik sambil kuliah. 

Awalnya sejak aku SMA aku ingin kuliah di kesenian, tetapi ada pertentangan dengan keluarga sehingga akhirnya aku coba mengalah, mengambil teknik mesin. Pergaulanku tetap dengan orang-orang kesenian, dengan para pelukis di pasar seni ancol dan beberapa pelukis di kota B. Kuliah mungkin sekedar status, agar nggak minder-minder amat kalau ketemu Sy. Mungkin itulah yang membuat IPku kecil.

Tahun pertama kuliah nggak ada masalah berarti. Iswanto memberiku nomor telfon Sy di kota S, kemudian kami jalin komunikasi kembali baik lewat telfon maupun surat. Perasaan kembali campur aduk jika pulang kerja ada surat dari kota S.

Itu terjadi pada awal krisis moneter. Tahun 1998, aku janjian untuk bertemu Sy di kota S. Kebetulan adikku ada keperluan untuk UMPTN. Karena komunikasi sudah terjalin, aku berniat untuk memperbaiki hubungan kami. 

Sampai di kota S turun di taman makam pahlawan K.B kalau tidak salah. Aku turun dan kulihat Sy. Ada cowok bersamanya, bertopi. Saat ketemu, kami berjabatan tangan, Sy berbisik “Pr#ngg, kenalin. Iki gantimu,,,” Lirih tapi terdengar jelas. Aku bingung apa yang harus kulakukan ? Akhirnya kami berempat pergi, mengurus pendaftaran kuliah adikku. Adikku tahu aku salah tingkah. Saat naik bis kota, aku sengaja duduk di depan belakang sopir agar nggak lihat mereka, tetapi rupanya dari spion di atas sopir justru kemesraan mereka terbingkai.

Seorang pengamen naik dan menyanyikan lagunya Dedy Dorres “Hilangnya Seorang Gadis”. Perasaanku makin nggak karuan. Akhirnya setelah urusan selesai aku segera pulang. Saat Sy membelikanku tiket bus, aku minta waktu sama cowoknya untuk bicara empat mata.

Awalnya kutanya apakah dia tahu siapa aku. Cowok itu mengangguk. Aku sampaikan, bahwa aku pernah deket sama Sy, tapi karena sekarang Sy pilih dia aku minta tolong jagain dan bahagiain Sy. Aku tidak akan mengganggu mereka, Aku Cuma berharap mereka bahagia.

Sampai Sy datang bawa tiket bus, aku terima, berpamitan, naik dan korden jendela bus aku tutup. Untuk melihat mereka dari kaca jendela aku nggak kuat. Adikku diam disampingku, diperjalanan baru bertanya tentang Sy. Aku bilang “Sudahlah,,, mungkin bukan jodohku.” Sampai di kota T bapakku bertanya juga tentang Sy, dan jawaban yang sama aku berikan.

###

Sebelumnya aku ngontrak di sebelah rumahnya budenya Karmani, temen SMAku. Ada tetanggaku, anak SMA, cewek yang sering kirim surat ke aku. Kadang dititipin ibu kost, kadang diselipin di bawah pintu. Beberapa kali ngasih kado, aku kembalikan. Suatu hari Karmani main ke kota B, dan memanggilku, ngajak ngobrol diruang tamu. Tapi rupanya itu trik semata, karena tiba-tiba si cewek sudah ada di ruang tamu. Aku langsung keluar. Malamnya aku dan Karmani bicara. Dia anggap aku nggak berperasaan, aku jawab seharusnya cewek itu tahu. Karena makin lama makin risih, akhirnya aku pindah kontrakkan. Tak perlu lagi memberi tahu Sy. Semuanya sudah berakhir. Aku kalah. Mulai itulah aku benar-benar putus kontak dengan Sy.

Pindah kontrakan baru. Krisis moneter berlanjut. Harga barang melambung naik. Gaji tidak ada perubahan.  

Cerita di kontrakan baru, besok aku tuliskan.

Kamis, Mei 26

...

Untuk kesekian kalinya aku merasa kehilanganmu. Seperti april yang pergi, berganti bulan mei yang sepi.

Ada apa dengan diriku ? pernah kutanyakan berulang kali. Apakah pucuk daun-daun tebu yang bergesek tertiup angin masih menantiku ? Dan ada yang pergi dari hidupku, itukah dirimu ?