Rabu, April 27

Saat Jingga Sakit



Suatu hari, anakku Jingga harus dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Lippo Cikarang karena diare. Karena tak ada pembantu, maka praktis untuk beberapa hari kami sekeluarga menginap di rumah sakit tersebut. Dan tantangan yang paling berat buatku adalah membuat anak betah. Tentu saja kamar rumah sakit menjadi penuh dengan mainan anak. Kepada dokter aku meminta ditempatkan di kamar tersendiri.

Malam jumat, ada telfon dari keluarga dan ingin di jemput di pool bus. Sehabis sholat maghrib berniat pergi, tetapi sebelum keluar dari kamar ada ketukan dari luar. Kubuka, tampak beberapa orang lelaki berbaju koko berdiri di ambang pintu, ditemani seorang suster.

“Maaf pak, apakah bapak seorang muslim ?” tanya salah seorang diantara mereka.

“Insya Allah,, “ jawabku.

“Boleh kami masuk Pak ?” 

Aku berfikir sejenak. Ada sedikit kecurigaan terhadap mereka. Seperti sebelumnya, ada beberapa orang yang datang kepadaku dengan niat da’wah kemudian yang terjadi adalah dialog yang panjang dan sengit tentang ajaran agama islam. Biasanya mereka yang membawa aliran baru dalam islam, yang sepengetahuanku telah difatwakan sesat oleh MUI. Lalu untuk apa mereka datang disaat aku tak butuh dialog, dalam keadaanku yang sedang tertimpa musibah. Aku ragu. Takut anak-anak dan istriku terganggu dengan kehadiran mereka.

“Maaf Pak, bolehkah kami masuk ?” ulang mereka karena melihat keraguanku.

“Boleh Pak, tapi maaf tolong jangan kelamaan. Anak saya butuh istirahat “ jawabku.

Akhirnya mereka masuk dan memperkenalkan diri. Mereka datang dari perumahan X, salah satu perumahan mewah di Kawasan Lippo Cikarang. Setiap malam jumat, mereka mengunjungi rumah sakit di kawasan tersebut tujuannya untuk ikut mendoakan kesembuhan pasien dan memberi  support keluarga.
Setelah memberi penjelasan dan mendapatkan ijin dariku, maka mulailah mereka mendoakan anakku Jingga yang saat itu tengah tertidur. Doa-doa baik mereka panjatkan untuk anakku.  Aku ikut bersama mereka. Ditengah-tengah doa, beberapa orang menangis terisak. Aku tertegun kehilangan kata.

Selesai berdoa, mereka berpamitan untuk melanjutkan kegiatan tersebut di kamar pasien yang lain. Aku masih tertegun. Gugu. Menyadari khilafku, telah berburuk sangka. Mereka, mungkin orang-orang kaya yang secara materi berkecukupan masih perduli untuk mendatangi kami yang sesungguhnya tidak mereka kenal.  Terkadang dipikiranku ketika melewati perumahan mewah yang terlintas adalah penghuninya yang borjuis, ketika melihat mobil mewah melintas, terbersit sangkaan mereka dapatkan dari dusta, padahal mungkin sang penumpang tengah berdzikir menginggat Allah.

Jika aku di posisi mereka, masihkah aku memiliki waktu untuk melakukan hal yang sama ? Atau justru terpikat dengan gemerlap kehidupan malam, asyik masyuk dengan gadis-gadis karaoke yang dari mulutnya menguap aroma whiski dan tequila.  Ah,,, Entahlah. Aku hanya merasakan hanggatnya air yang menetes dari mataku saat itu.

Tidak ada komentar: