Suatu hari, anakku Jingga harus dirawat di sebuah rumah
sakit di kawasan Lippo Cikarang karena diare. Karena tak ada pembantu, maka
praktis untuk beberapa hari kami sekeluarga menginap di rumah sakit tersebut.
Dan tantangan yang paling berat buatku adalah membuat anak betah. Tentu saja
kamar rumah sakit menjadi penuh dengan mainan anak. Kepada dokter aku meminta
ditempatkan di kamar tersendiri.
Malam jumat, ada telfon dari keluarga dan ingin di jemput di
pool bus. Sehabis sholat maghrib berniat pergi, tetapi sebelum keluar dari
kamar ada ketukan dari luar. Kubuka, tampak beberapa orang lelaki berbaju koko
berdiri di ambang pintu, ditemani seorang suster.
“Maaf pak, apakah bapak seorang muslim ?” tanya salah
seorang diantara mereka.
“Insya Allah,, “ jawabku.
“Boleh kami masuk Pak ?”
Aku berfikir sejenak. Ada sedikit kecurigaan terhadap
mereka. Seperti sebelumnya, ada beberapa orang yang datang kepadaku dengan niat
da’wah kemudian yang terjadi adalah dialog yang panjang dan sengit tentang
ajaran agama islam. Biasanya mereka yang membawa aliran baru dalam islam, yang
sepengetahuanku telah difatwakan sesat oleh MUI. Lalu untuk apa mereka datang
disaat aku tak butuh dialog, dalam keadaanku yang sedang tertimpa musibah. Aku
ragu. Takut anak-anak dan istriku terganggu dengan kehadiran mereka.
“Maaf Pak, bolehkah kami masuk ?” ulang mereka karena
melihat keraguanku.
“Boleh Pak, tapi maaf tolong jangan kelamaan. Anak saya
butuh istirahat “ jawabku.
Akhirnya mereka masuk dan memperkenalkan diri. Mereka datang
dari perumahan X, salah satu perumahan mewah di Kawasan Lippo Cikarang. Setiap
malam jumat, mereka mengunjungi rumah sakit di kawasan tersebut tujuannya untuk
ikut mendoakan kesembuhan pasien dan memberi
support keluarga.
Setelah memberi penjelasan dan mendapatkan ijin dariku, maka
mulailah mereka mendoakan anakku Jingga yang saat itu tengah tertidur. Doa-doa
baik mereka panjatkan untuk anakku. Aku
ikut bersama mereka. Ditengah-tengah doa, beberapa orang menangis terisak. Aku
tertegun kehilangan kata.
Selesai berdoa, mereka berpamitan untuk melanjutkan kegiatan
tersebut di kamar pasien yang lain. Aku masih tertegun. Gugu. Menyadari
khilafku, telah berburuk sangka. Mereka, mungkin orang-orang kaya yang secara
materi berkecukupan masih perduli untuk mendatangi kami yang sesungguhnya tidak
mereka kenal. Terkadang dipikiranku
ketika melewati perumahan mewah yang terlintas adalah penghuninya yang borjuis,
ketika melihat mobil mewah melintas, terbersit sangkaan mereka dapatkan dari
dusta, padahal mungkin sang penumpang tengah berdzikir menginggat Allah.
Jika aku di posisi mereka, masihkah aku memiliki waktu untuk
melakukan hal yang sama ? Atau justru terpikat dengan gemerlap kehidupan malam,
asyik masyuk dengan gadis-gadis karaoke yang dari mulutnya menguap aroma whiski
dan tequila. Ah,,, Entahlah. Aku hanya
merasakan hanggatnya air yang menetes dari mataku saat itu.