Jumat, Desember 2

Rumah Sunyi

Inilah rumahku. Rumah yang sunyi, rumah yang sungguh tidak abadi.

Inilah rumahku, rumah yang sunyi. Tak ada ruang untuk kalian, karena memang kalian tak menginginkan memasukinya.

Inilah rumahku, rumah yang sepi. Tak ada gelak tawa, tak ada weka weka, karena memang tak ada yang perlu ditertawakan.

Inilah rumahku, rumah yang sepi. Tak ada dialog, kecuali monolog.

Inilah rumahku, rumah yang lengang. Karena tak mungkin perempuan melenggang.

Inilah rumahku. Rumah seseorang yang menunggu mati.

Sabtu, November 26

Salju

Lantas, dengan apa aku mesti mengenangmu ?

Apakah dengan bau keringat, debu dan lumpur ataukan dengan kupu-kupu yang terbang diantara bunga-bunga ilalang dan perdu, yang berlatar gunung yang biru dan langit kelabu ?

Sejenak kau datang tanpa bayang, seperti angin yang berhembus membawa wangi melati kemudian pergi kembali. Jauh dan semakin jauh. Tak ada lagi yang mampu kujangkau.

Jumat, November 18

KUSAI...

Hiruk pikuk politik.

Biarlah. Masalah yang muncul adalah ujian, membuat kita tahu mana kawan mana lawan. Ketika semua bicara, gaduh dengan pendapatnya masing-masing sebenarnya kembalikan pada Allah dan Rasulnya. Segalanya akan terjawab.

Kasus pemimpin non muslim bukan pertama kali terjadi. Hukumnya dalam islam sudah jelas. Seperti juga poligami, hukumnya telah terang benderang. Permasalahannya adalah ketika seseorang tidak menyukai poligami, kemudian menentangnya. Lalu dalil-dalil dicari, hanya untuk memperkuat pendapatnya, nafsunya. Manusia mungkin bisa dibodohi, atau dibuat ragu. Tetapi pemilik kebenaran tentu tidak tidur.


Kamis, Oktober 27

Doryoku,,,

Kau ramalkan akan terjadi kejadian buruk dalam 6 bulan kedepan, tapi tak mengambil sikap apapun selain pembicaraan kosong.

Tidak. Ada daya hidup dalam diriku. Kan kubuat skenario terbaik, dengan usaha terbaik dan doa-doa terbaik. Mari kita lihat hasilnya tanpa campur tanganmu. Semoga Allah meridhoi.

Selasa, Oktober 25

Lelah

Sungguh, saat ini aku sangat lelah dengan pekerjaanku.

Yah, aku sangat lelah. Tahun 2016, tahun yang teramat berat. Semoga segalanya bisa teratasi dengan baik.

Tak apalah menipu diri, tersenyum dan tertawa. Sebab jika aku menyerah dan terlihat rapuh, bagaimana orang-orang yang bersandar kepadaku ? Biarlah lelah ini kunikmati sendiri.

Rabu, Juni 1

Cerita 2: Kontrakan Baru



Suatu hari, seorang teman memposting cerita di group WA, tentang seorang mahasiswa dari kampung yang mengejar sukses di kota besar. Pingsan dijalan dan dikira orang mabuk, mencuri singkong untuk bertahan hidup hingga sekarang mahasiswa tersebut sudah sukses. Jepang, china, Thailand, Vietnam seperti Balamoa –Banjaran buat dia. Ada beberapa kemiripan dengan pengalamanku, ternyata benar dia sedang menceritakan aku. Hanya saja, mungkin cerita yang ditulisnya terlalu berlebihan. Aku tak tahu dia dapat cerita itu dari mana, sebab ketika kutanya dia tak memberitahuku dari mana cerita itu dia dengar. Tapi tentu saja aku bias mengira, karena cerita itu hanya aku tuturkan pada satu orang.

###
 
Sebenarnya cerita tersebut berawal dari kepindahanku ke kontrakan baru, bertepatan dengan datangnya krisis moneter di Indonesia. Sebuah rumah petak ukuran kurang lebih 3,5 x 3,5 meter dengan pagar setinggi kurang lebih 1,5 meter. Ada tanah kosong di area tersebut yang oleh pemilik kontrakan ditanami pisang dan pohon singkong. Sementara di pintu masuk kontrakan, sebuah toko kelontong yang dijagain oleh Vivi, anak pemilik kontakan kadang juga adiknya.

Rumah pemilik kontrakan kira-kira 700 meter jauhnya. Kontrakan berada di pangkalan truck, sehingga ada beberapa kamar yang dihuni oleh supir-supir truck, tapi karena mereka punya keluarga maka kontrakan hanya sebagai tempat menginap sementara saja saat mereka istirahat dalam pengiriman barang.

Suasananya berbeda dengan kontrakan sebelumnya. Kontrakan baru lebih bebas. Minuman, ganja, perempuan dan yang lainnya tidak terlalu dipermasalahkan pemilik kontrakan. Pada saat itu awalnya aku tinggal sendirian. 

Suatu hari aku berkenalan dengan Yasin, mahasiswa dari Medan. Ia tinggal di pos satpam, hanya dengan tas dan beberapa buku. Maklum, ia tak memiliki uang untuk kost atau menyewa kontrakan. Akhirnya aku minta Yasin untuk tinggal bersamaku, tetapi untuk urusan makan masing-masing saja.

Kemudian Iwan, mahasiswa teknik mesin kakak angkatan juga akhirnya aku tamping di kontrakanku. Akhirnya kontrakanku jadi penuh oleh Mahasiswa yang terancam DO dan buruh yang di PHK.
Yasin kalau sore narik becak di gang, malamnya kuliah. Dia juga memelihara ikan-ikan kecil di ember untuk dijual. Praktis kontakanku banyak ember berisi air. Tak apalah,,, buat bertahan hidup.

Saat itu hanya aku yang masih bekerja dan memiliki penghasilan tetap, namun tentu saja tidak cukup untuk makan kami semua. Kalau jam makan siang di perusahaan, aku sering teringat teman-temanku. Apakah mereka sudah makan ?

Suatu hari, pacar Iwan berantem dengan keluarganya. Akhirnya kabur dan tinggal di kontrakanku juga. Hwaaaa,,,, makin sempit. Keuangan makin sulit. Tapi ada untungnya, ceweknya bisa masak sehingga justru bisa menghemat.

Secara finansial itu adalah saat-saat tersulit dalam hidupku. Beberapa kali, kami terpaksa mencuri singkong yang ditanam pemilik kontrakan, bukan dengan mencabutnya tapi dengan menggali dan memotong umbinya. Pohon singkong tetap hidup. Wakakakakakakakkkkk

Sabtu minggu kami pernah coba keliling kompleks perumahan buat ngamen, alhamdulillah bisa buat makan. Kalau buat ngamen di jalan, kami nggak berani karena setiap wilayah ada yang menguasai saat itu.

Terkadang kami harus menahan lapar seharian,,, atau mencuri bahan bakar minyak dari truck yang terparkir di pangkalan truck. Beberapa kali aku tak bisa tidur karena lapar, akhirnya keluar dan makan daun singkong mentah. Tentu saja rasanya nggak enak, tapi bagaimana lagi…?

Saat yang berat adalah saat aku sakit. Saat itu tak seorangpun di kontrakan, sehingga aku berniat untuk pergi berobat seorang diri. Rupanya jalan kaki keluar gang aja aku nggak kuat dan akhirnya ndlosor di pinggir jalan. Karena daerah tersebut pangkalan truck dan banyak orang mabuk, mungkin orang mengira aku juga jatuh karena mabuk. Mau nggak mau aku istirahat sejenak dan kembali ke kontrakan. Sorenya Yasin pulang dan membelikanku obat.

Rupanya Iin, anak Pak RT mendekatiku. Mengetahui keadaan kami, dia sering membawakan makanan ke kontrakan. Dilain pihak, Vivi ternyata cemburu. Suatu siang, Vivi ketahuan merokok di toko yang sepi, aku menegornya. Akhirnya dia cerita dan nggak ingin aku dekat dengan Iin. Padahal teman-teman cowokku justru minta aku dekat dengan Iin. Aku sendiri jujur belum bisa melupakan Sy.

Persaingan Iin dan Vivi dimulai, masing masih dengan caranya berusaha mendekatiku. Keduanya sama-sama masih SMA. Suatu hari seorang bapak datang ke kontrakkanku, mau jual kaset lagu barat. Alasannya buat beli beras. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas dengan computer. Karena kasihan aku beli kaset Evergreen tersebut. Si Bapak juga minta anaknya diajarin computer dan aku nggak masalah. Sorenya anaknya datang ke kontrakan untuk belajar. Rupanya masih SMA juga, perempuan juga. Makin runyam jadinya. 

Akhirnya aku undang semua orang, buat acara masak dan makan-makan di kontrakanku. Semua datang. Aku pergi dan pulang membawa seorang perempuan cantik, tinggi dan anggun. Namanya Era, aku kenalkan mereka sebagai pacarku. Tak ada yang tahu, sebenarnya Era adalah bulikku, saudaraku dari Tegal yang kebetulan usianya dibawahku.

Sejak perkenalan itu, semuanya mundur teratur. Tapi tak ada makanan lagi yang dianterin ke kontrakanku,,, kasihan teman-temanku. Tapi aku juga nggak mau memanfaatkan orang lain. Apakah saat itu tidak ada permpuan yang menarik perhatianku ? Tentu saja ada. Tapi dalam keadaan seperti itu aku nggak berani bermimpi memiliki pacar. Aku takut tak bisa membahagiakannya nanti, sampai beberapa tahun kemudian aku kenal Rona. 

Esok akan kuceritakan tentang Rona.


Senin, Mei 30

Cerita 1


Untuk beberapa hari kedepan aku ingin menulis pengalamanku selepas SMA. Tapi karena hari ini lumayan sibuk maka nggak sempet nulis di pagi hari.

Kelas 3 semester akhir aku putuskan untuk undur diri. Banyak temen-temen yang menganggapku jahat, aku terima itu. Toh percuma aku jelasin. Cerita jaman SMA, aku tulis di buku harian yang saat ini terselip di rak buku rumahku. Sayang, beberapa lembar yang berisi perkelahian dan masalah permusuhan aku telah bakar. Ada penyesalan juga kenapa harus aku bakar,,, toh bisa menjadi bacaan yang asyik suatu saat nanti.

Sy kuliah di kota S, sementara aku sadar orang tuaku nggak mungkin bisa biayai kuliahku dan adikku. Satu satunya jalan aku harus kuliah sambil bekerja agar kami bisa kuliah bersamaan. Aku kerja di kota B, menjadi buruh pabrik elektronik sambil kuliah. 

Awalnya sejak aku SMA aku ingin kuliah di kesenian, tetapi ada pertentangan dengan keluarga sehingga akhirnya aku coba mengalah, mengambil teknik mesin. Pergaulanku tetap dengan orang-orang kesenian, dengan para pelukis di pasar seni ancol dan beberapa pelukis di kota B. Kuliah mungkin sekedar status, agar nggak minder-minder amat kalau ketemu Sy. Mungkin itulah yang membuat IPku kecil.

Tahun pertama kuliah nggak ada masalah berarti. Iswanto memberiku nomor telfon Sy di kota S, kemudian kami jalin komunikasi kembali baik lewat telfon maupun surat. Perasaan kembali campur aduk jika pulang kerja ada surat dari kota S.

Itu terjadi pada awal krisis moneter. Tahun 1998, aku janjian untuk bertemu Sy di kota S. Kebetulan adikku ada keperluan untuk UMPTN. Karena komunikasi sudah terjalin, aku berniat untuk memperbaiki hubungan kami. 

Sampai di kota S turun di taman makam pahlawan K.B kalau tidak salah. Aku turun dan kulihat Sy. Ada cowok bersamanya, bertopi. Saat ketemu, kami berjabatan tangan, Sy berbisik “Pr#ngg, kenalin. Iki gantimu,,,” Lirih tapi terdengar jelas. Aku bingung apa yang harus kulakukan ? Akhirnya kami berempat pergi, mengurus pendaftaran kuliah adikku. Adikku tahu aku salah tingkah. Saat naik bis kota, aku sengaja duduk di depan belakang sopir agar nggak lihat mereka, tetapi rupanya dari spion di atas sopir justru kemesraan mereka terbingkai.

Seorang pengamen naik dan menyanyikan lagunya Dedy Dorres “Hilangnya Seorang Gadis”. Perasaanku makin nggak karuan. Akhirnya setelah urusan selesai aku segera pulang. Saat Sy membelikanku tiket bus, aku minta waktu sama cowoknya untuk bicara empat mata.

Awalnya kutanya apakah dia tahu siapa aku. Cowok itu mengangguk. Aku sampaikan, bahwa aku pernah deket sama Sy, tapi karena sekarang Sy pilih dia aku minta tolong jagain dan bahagiain Sy. Aku tidak akan mengganggu mereka, Aku Cuma berharap mereka bahagia.

Sampai Sy datang bawa tiket bus, aku terima, berpamitan, naik dan korden jendela bus aku tutup. Untuk melihat mereka dari kaca jendela aku nggak kuat. Adikku diam disampingku, diperjalanan baru bertanya tentang Sy. Aku bilang “Sudahlah,,, mungkin bukan jodohku.” Sampai di kota T bapakku bertanya juga tentang Sy, dan jawaban yang sama aku berikan.

###

Sebelumnya aku ngontrak di sebelah rumahnya budenya Karmani, temen SMAku. Ada tetanggaku, anak SMA, cewek yang sering kirim surat ke aku. Kadang dititipin ibu kost, kadang diselipin di bawah pintu. Beberapa kali ngasih kado, aku kembalikan. Suatu hari Karmani main ke kota B, dan memanggilku, ngajak ngobrol diruang tamu. Tapi rupanya itu trik semata, karena tiba-tiba si cewek sudah ada di ruang tamu. Aku langsung keluar. Malamnya aku dan Karmani bicara. Dia anggap aku nggak berperasaan, aku jawab seharusnya cewek itu tahu. Karena makin lama makin risih, akhirnya aku pindah kontrakkan. Tak perlu lagi memberi tahu Sy. Semuanya sudah berakhir. Aku kalah. Mulai itulah aku benar-benar putus kontak dengan Sy.

Pindah kontrakan baru. Krisis moneter berlanjut. Harga barang melambung naik. Gaji tidak ada perubahan.  

Cerita di kontrakan baru, besok aku tuliskan.

Kamis, Mei 26

...

Untuk kesekian kalinya aku merasa kehilanganmu. Seperti april yang pergi, berganti bulan mei yang sepi.

Ada apa dengan diriku ? pernah kutanyakan berulang kali. Apakah pucuk daun-daun tebu yang bergesek tertiup angin masih menantiku ? Dan ada yang pergi dari hidupku, itukah dirimu ?

Rabu, April 27

Saat Jingga Sakit



Suatu hari, anakku Jingga harus dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Lippo Cikarang karena diare. Karena tak ada pembantu, maka praktis untuk beberapa hari kami sekeluarga menginap di rumah sakit tersebut. Dan tantangan yang paling berat buatku adalah membuat anak betah. Tentu saja kamar rumah sakit menjadi penuh dengan mainan anak. Kepada dokter aku meminta ditempatkan di kamar tersendiri.

Malam jumat, ada telfon dari keluarga dan ingin di jemput di pool bus. Sehabis sholat maghrib berniat pergi, tetapi sebelum keluar dari kamar ada ketukan dari luar. Kubuka, tampak beberapa orang lelaki berbaju koko berdiri di ambang pintu, ditemani seorang suster.

“Maaf pak, apakah bapak seorang muslim ?” tanya salah seorang diantara mereka.

“Insya Allah,, “ jawabku.

“Boleh kami masuk Pak ?” 

Aku berfikir sejenak. Ada sedikit kecurigaan terhadap mereka. Seperti sebelumnya, ada beberapa orang yang datang kepadaku dengan niat da’wah kemudian yang terjadi adalah dialog yang panjang dan sengit tentang ajaran agama islam. Biasanya mereka yang membawa aliran baru dalam islam, yang sepengetahuanku telah difatwakan sesat oleh MUI. Lalu untuk apa mereka datang disaat aku tak butuh dialog, dalam keadaanku yang sedang tertimpa musibah. Aku ragu. Takut anak-anak dan istriku terganggu dengan kehadiran mereka.

“Maaf Pak, bolehkah kami masuk ?” ulang mereka karena melihat keraguanku.

“Boleh Pak, tapi maaf tolong jangan kelamaan. Anak saya butuh istirahat “ jawabku.

Akhirnya mereka masuk dan memperkenalkan diri. Mereka datang dari perumahan X, salah satu perumahan mewah di Kawasan Lippo Cikarang. Setiap malam jumat, mereka mengunjungi rumah sakit di kawasan tersebut tujuannya untuk ikut mendoakan kesembuhan pasien dan memberi  support keluarga.
Setelah memberi penjelasan dan mendapatkan ijin dariku, maka mulailah mereka mendoakan anakku Jingga yang saat itu tengah tertidur. Doa-doa baik mereka panjatkan untuk anakku.  Aku ikut bersama mereka. Ditengah-tengah doa, beberapa orang menangis terisak. Aku tertegun kehilangan kata.

Selesai berdoa, mereka berpamitan untuk melanjutkan kegiatan tersebut di kamar pasien yang lain. Aku masih tertegun. Gugu. Menyadari khilafku, telah berburuk sangka. Mereka, mungkin orang-orang kaya yang secara materi berkecukupan masih perduli untuk mendatangi kami yang sesungguhnya tidak mereka kenal.  Terkadang dipikiranku ketika melewati perumahan mewah yang terlintas adalah penghuninya yang borjuis, ketika melihat mobil mewah melintas, terbersit sangkaan mereka dapatkan dari dusta, padahal mungkin sang penumpang tengah berdzikir menginggat Allah.

Jika aku di posisi mereka, masihkah aku memiliki waktu untuk melakukan hal yang sama ? Atau justru terpikat dengan gemerlap kehidupan malam, asyik masyuk dengan gadis-gadis karaoke yang dari mulutnya menguap aroma whiski dan tequila.  Ah,,, Entahlah. Aku hanya merasakan hanggatnya air yang menetes dari mataku saat itu.

Senin, April 25

Kabar Bunuh Diri

Saat jam kerja, ada kabar dari istriku bahwa ada orang bunuh diri di Blok H perumahanku. Foto seorang lelaki, hanya bercelana dalam tampak tergantung di pintu rumah. Rupanya kabar tersebut cepat sekali menyebar, hampir seluruh penghuni perumahan memiliki gambar tersebut.

Rupanya lelaki yang tergantung tersebut terlibat masalah keuangan. Dia nganggur dan tinggal di rumah kakaknya bersama istrinya yang sedang hamil muda. Istrinya kena PHK, dan akhirnya dia nekat gantung diri. Mengetahui foto adiknya tersebar di media sosial, sang kakak marah dan berusaha untuk mengusut pelaku pertama yang mengambil gambar adiknya saat masih dalam posisi tergantung.

Tak perlu membahas gantung diri, karena sudah jelas hukumnya dan bukan kali pertama terjadi dan tak mungkin kembali lagi. Tetapi pelaku pemotretan tersebut yang sepertinya tak memiliki empati. OK, bunuh diri memang salah, dan itu sudah merupakan aib bagi keluarga yang ditinggal pergi, tapi rasanya tak perlu kesedihannya ditambah dengan foto keluarga yang jadi bahan tontonan dan lelucon.

Semoga tak lagi terjadi...