Jumat, Januari 11

MASA BAHAGIA

Pernah suatu ketika dalam obrolan ringan di sebuah sudut kota di Yokohama, Tamon San bertanya kepadaku, masa paling indah dan menyenangkan dalam hidupku. Aku jawab masa sekolah di SMA. Alasanku karena masa tersebut memang masa yang paling indah, penuh warna, dendam rindu dan segala cerita masa remaja.

Namun menurutnya, masa paling berbahagia untukku adalah saat itu, ketika aku magang di Yokohama. Alasannya secara materi aku berkecukupan dibanding dengan masa saat di SMA. Aku menolaknya dan tetap pada pendapatku bahwa masa paling bahagia adalah masa SMA. Kemudian terjadi argumen-argumen ringan. Di Jepang aku kesepian, jauh dari orang-orang tercinta. Bagaimana aku bisa mengatakan saat itu adalah masa yang paling membahagiakanku...?

Kemudian untuk beberapa waktu yang cukup lama kami terpisah. Aku pulang ke Indonesia sementara dia melanjutkan hidupnya. Sampai pada bulan Oktober tahun 2012 yang lalu, ada pekerjaan yang mengharuskanku kembali ke Jepang walau cuma satu minggu.

Aku telfon Tamon San dan janji bertemu di Kuil Asakusa - Tokyo, sebuah kuil terkenal yang selalu ramai oleh para wisatawan. Dan minggu siang, untuk kesekian kalinya kami bertemu. Ia datang bersama anak gadisnya, Saki San yang kini sudah kuliah. Aku sempat ucapkan terima kasih pada Saki San karena dulu dibantu memilihkan sebuah baju kimono untuk oleh-oleh. Kemudian sambil minum dan sedikit makan disebuah kafe obrolan mengalir tentang segala hal.

Sampai aku teringat dengan obrolan empat tahun yang lalu, aku katakan pada Tamon San bahwa saat yang paling membahagiakan bagiku adalah saat ini. Berkumpul dengan anak dan istri, hidup cukup walau tak kaya, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur. Kali ini Tamon San dan anaknya setuju dan sependapat denganku.
 "Motto siawase to omou yo,,," kata Tamon San sambil tersenyum. (kedepan akan lebih berbahagia,,,)
Saki San mengangguk dan ikut tersenyum. Dan kukatakan semoga kehidupan Tamon San juga kedepan akan lebih berbahagia,,,

 Satu jam kemudian kami kembali berpisah, entah kapan waktu akan mempertemukan kami kembali. Angin dingin mulai menyelimuti kota. Musim dingin akan segera datang menyelimuti Tokyo, dan musim banjir akan menghampiri Ibukotaku Jakarta.

.......
.......
.......

Disela-sela pekerjaanku hari ini, aku harus mewawancara beberapa orang calon karyawan. Seperti biasanya aku buka dengan pertanyaan yang ringan agar mereka nggak nervous, kemudian obrolan tentang pekerjaan dan ditutup kembali dengan pertanyaan-pertanyaan ringan agar mereka kembali rileks. Pada salah satu anak aku bertanya tentang masa yang paling berbahagia baginya, karena dia telah bekerja pada beberapa perusahaan yang lumayan terkenal. Tentu hanya pertanyaan ringan sebagai penutup.

 "Masa sekolah Pak," jawabnya. Wah sama denganku dulu jawabannya. Aku tersenyum dan mau-tidak mau teringat masa SMAku yang indah dulu. Tapi ketika kutanyakan alasannya ternyata berbeda dengan alasanku.

"Bapak saya sudah almarhum, Ibu saya seorang buruh cuci Pak, jaman sekarang semua orang (di Bekasi) pergi sekolah dengan motor tetapi saat sekolah saya pake sepeda walau jaraknya jauh. Tapi saya selalu semangat belajar, dan saya selalu mendapat rangking. Kalau ngambil raport ibu bilang sangat bangga kepada saya, dan masa-masa itulah yang paling membahagiakan buat saya Pak,,"

 Deg ! Aku seperti ditampar. Dia merasa membahagiakan Ibu adalah saat yang menyenangkan, sedangkan aku merasa masa SMA berbahagia karena sebab yang lain. Aku belajar untuk menarik hati gadis pujaanku, sementara ia persembahkan untuk ibunya.

 Aku merasa sangat egois,,,

Tidak ada komentar: