Menyambung masalah Tumini dan Paijo, awalnya memang agak ragu jika harus membelinya dengan harga yang lumayan tinggi. Tetapi keraguan tersebut justru hilang saat aku datang ke peternak Lovebird di Rawalumbu. Lovebird, bukan hanya bagus sebagai burung peliharaan, tetapi rasanya bagus pula jika untuk diternakkan karena sifatnya yang mudah akrab dengan manusia, tidak mudah stres dan memiliki birahi yang tinggi.
Mulailah kemudian mencari informasi tentang lovebird di internet. Kemudian dengan waktu yang tersisa di malam hari kubuat kandang untuk Tumini dan Paijo di lantai dua rumahku. Awalnya kubeli sebuah sangkar yang dijual di pedagang, tetapi rasanya terlalu sempit untuk mengepakkan sayap-sayap Tumini dan Paijo.
Maka Asa memiliki mainan baru. Tetapi aku kemudian berfikir, sebenarnya Tumini dan Paijo milik Asa atau milikku..? Tentu milik kami, Aku, Asa dan Rona. Tetapi apakah benar Asa menginginkan Lovebird itu, atau justru keinginanku meminjam Asa sebagai alasan pembenaran..? Mengatas namakan orang lain untuk memiliki apa yang menjadi keinginan kita pribadi bukankah sebuah tindakan pengecut..?
Para pemimpin, anggota dewan yang terhormat, dengan segala macam dalih dan upaya, mengatasnamakan rakyat rasanya bukan sesuatu yang baru dan bukan rahasia lagi kalau sebenarnya apa yang mereka inginkan adalah ambisi pribadi yang dibalut sedemikian rupa seakan-akan itu adalah kehendak rakyat.
Dan aku, telah mengatasnamakan seorang anak, darah dagingku, seorang insan yang belum mengenal dosa sebagai alasan untuk memuaskan keinginanku semata. Asa, jika kau besar nanti dan mengetahui hal ini, semoga kau memaafkan ayahmu.
Jumat, April 1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar