Pulang dari kampung Asa pilek. Hidungnya mampet. Itu yang membuatnya kesulitan bernafas dan tentu ketika tidur menjadi sesuatu yang sangat mengganggu. Tak terbayangkan bagaimana rasanya bagi seorang anak usia 11 bulan, sedangkan aku saja merasa sangat tersiksa jika harus tidur dengan keadaan hidung yang tersumbat seperti itu.
Asa tidur dengan gelisah, putar kiri-kanan, tengkurep telentang, rasanya tak ada posisi yang enak. Aku ikut gelisah. Rona resah.
Tengah malam, mungkin karena sudah tak tahan Asa menangis keras. Kami berusaha menenangkannya dengan berbagai cara, namun akhirnya dia bisa diam setelah aku ambilkan calender bergambar dan mulailah aku bercerita. Asa diam memperhatikan ceritaku, dalam gendonganku, dengan calender yang dipegang ibunya.
Entahlah, saat-saat seperti itu aku justru merasa menjadi manusia yang punya arti. Aku merasa berguna, merasa ada yang membutuhkan walau cuma keluargaku sendiri. Aku teringat tulisan-tulisan Samuel Mulia di KOMPAS minggu yang karena kegagalannya membangun sebuah keluarga hampir selalu menuliskan tentang betapa bahagianya menjadi orang yang tak terikat dengan komitmen perkawinan. Alasan-alasan yang selalu diungkapkannya adalah pengalaman teman-teman dan kenalannya yang selalu tersiksa dalam menjalin hubungan pernikahan. Kekerasan dalam rumah tangga, kebohongan-kebohongan, perselingkuhan dan tetek bengek masalah lain yang tentu saja akan menjadi sebuah batu sandungan dalam rumah tangga.
Dia, Samuel Mulia belum pernah merasakan betapa damainya berpelukan dengan seorang anak yang didalamnya mengalir darah kita, dan aku tak ingin menukarnya dengan apapun yang bernama dunia.
Senin, Februari 28
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar