Senin, Februari 28

Asa Pilek

Pulang dari kampung Asa pilek. Hidungnya mampet. Itu yang membuatnya kesulitan bernafas dan tentu ketika tidur menjadi sesuatu yang sangat mengganggu. Tak terbayangkan bagaimana rasanya bagi seorang anak usia 11 bulan, sedangkan aku saja merasa sangat tersiksa jika harus tidur dengan keadaan hidung yang tersumbat seperti itu.

Asa tidur dengan gelisah, putar kiri-kanan, tengkurep telentang, rasanya tak ada posisi yang enak. Aku ikut gelisah. Rona resah.

Tengah malam, mungkin karena sudah tak tahan Asa menangis keras. Kami berusaha menenangkannya dengan berbagai cara, namun akhirnya dia bisa diam setelah aku ambilkan calender bergambar dan mulailah aku bercerita. Asa diam memperhatikan ceritaku, dalam gendonganku, dengan calender yang dipegang ibunya.

Entahlah, saat-saat seperti itu aku justru merasa menjadi manusia yang punya arti. Aku merasa berguna, merasa ada yang membutuhkan walau cuma keluargaku sendiri. Aku teringat tulisan-tulisan Samuel Mulia di KOMPAS minggu yang karena kegagalannya membangun sebuah keluarga hampir selalu menuliskan tentang betapa bahagianya menjadi orang yang tak terikat dengan komitmen perkawinan. Alasan-alasan yang selalu diungkapkannya adalah pengalaman teman-teman dan kenalannya yang selalu tersiksa dalam menjalin hubungan pernikahan. Kekerasan dalam rumah tangga, kebohongan-kebohongan, perselingkuhan dan tetek bengek masalah lain yang tentu saja akan menjadi sebuah batu sandungan dalam rumah tangga.

Dia, Samuel Mulia belum pernah merasakan betapa damainya berpelukan dengan seorang anak yang didalamnya mengalir darah kita, dan aku tak ingin menukarnya dengan apapun yang bernama dunia.

Minggu, Februari 27

Pulang Kampung

Tanggal 23 Februari 2011, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan terkait dengan audit di Press line aku pulang agak terburu. Hari ini aku akan pulang ke Tegal bareng Rona dan Asa, karena akan mengantar Bapak pergi umrah tanggal 25 February 2011.

Pulang kerja, dalam perjalanan ke Rawa Lumbu hujan di tengah jalan, berhenti sebentar tetapi kelihatannya hujan akan berlangsung lama. Mau tak mau aku putuskan menembus hujan saja daripada nanti ketinggalan travel yang akan menjemputku.

Travel datang jam 10an malam. Asa sudah tidur. Satu mobil cuma ada tiga orang penumpang, aku, Rona dan Asa. Menembus malam, menuju Tegal yang basah oleh gerimis dan hujan.

Senin, Februari 21

Entah

Kemaren, saat menulis tentang Asa ternyata di rumah dia sedang rewel dan nangis kejer. Rona telp saat istirahat makan siang. Ah,,, menurutnya gara-gara aku ingat-ingat tentang dia, Asa jadi rewel. Memangnya nyambung ..? Tak tahu juga, tapi lebih baik hari ini aku tak usah mengingatnya biar dia nggak rewel. Asa maen aja sepuasnya ya, jalan di depan semakin banyak beban,,, nikmati saja waktu yang ada.

Pagi berangkat kerja dari Rawa Lumbu, jalanan yang basah sisa hujan semalem. Mata masih sedikit mengantuk tapi kupaksakan untuk melek.

Melewati jalanan Kalimalang yang ancur,,, sudah lama nggak dibenerin. Nggak tahu sampai kapan. Yang namanya pelayanan publik di Indonesia memang menjadi sesuatu yang sangat susah dinikmati. Negara yang dulu kubanggakan, entah mengapa kebanggaan pada negeri sendiri semakin terkikis, semakin luntur, semakin kabur berganti kekecewaan dan kekecewaan. Entah sampai kapan,,,,

Entah,,,

Minggu, Februari 20

Rewang Pulang

Pembantuku pulang kampung minggu ini. Yang kemudian terbayang adalah sederetan kerepotan-kerepotan yang sebentar lagi akan menghampiri kami, terutama masalah Asa.

Bagiku nggak masalah, kalau masalah makan, nyuci dan pekerjaan lain rasanya tidak terlalu perlu dikhawatirkan. Tetapi Asa, harus tetap ada yang momong dan rasanya tak mungkin dilakukan olehku atau Rona karena kami sama-sama bekerja. Mau tidak mau untuk sementara Asa kami ungsikan ke rumah Mbahnya di Rawa Lumbu.

Tanggal 23 nanti kami juga akan pulang ke Tegal. Rencananya mau ngantar Bapak umroh, tetapi semalam Ibu memberitahu lewat telepon bahwa untuk rombongan pengantar ditiadakan karena jumlahnya yang cuma dua belas orang. Mungkin kalau dipaksain panitia akan tekor, jadi salah satu pilihan adalah dengan meniadakan rombongan pengantar. Padahal rencananya kami akan mengikuti rombongan pengantar sekalian pulang ke Bekasi. Tapi tak masalah, mungkin kami akan kembali ke Bekasi tanggal 25 malam atau 26 pagi.

Dan sementara ini, tanggal 21 sampai 23 aku harus berangkat kerja dari Rawa Lumbu.