Minggu, Juli 3

Rehat...

Makin jarang menulis.
Makin jarang melukis.

Bukan tak pernah duduk di depan komputer atau internet, bahkan setiap hari tak lepas dari komputer dan internet. Tapi rasanya tak ada waktu untuk sekedar menulis, karena itu masalah dan ide-ide menulis hanya berkelebat di kepala sejenak, kemudian terbang dan hilang.

Sebelumnya, saat bekerja di Chemi-Con aku masih punya banyak waktu luang. Pun saat kerja di Yokohama Japan, sepulang kerja masih bisa menulis atau ngomik atau sekedar melukis.

Kini, bekerja di T.RAD INDONESIA waktuku habis untuk pekerjaan. Pikiran sepenuhnya untuk pekerjaan, bahkan sampai rumah bukan istirahat masih tetap memikirkan pekerjaan. Tak ada lagi energy tersisa untuk berkelana di dunia kreatif. Ah sudahlah,,, mungkin ini sebuah proses. Suatu saat nanti aku akan tetap melukis, menulis dan berkesenian. Bukan untuk mencari uang tapi sekedar menyalurkan hoby.

Kamis, April 14

Susi Melahirkan

Pagi hari, sebuah pesan singkat datang dari Susi. Semalam dia melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat badan 2,8 kg dengan proses normal.

Beberapa minggu yang lalu aku ketemu di Lippo Cikarang saat dia kontrol dengan dokter Harun. Menurut perkiraan lahir tanggal 13 April, tapi ternyata mundur 2 hari dari yang diperkirakan.

Susui dulu bekerja juga di PT.T.RAD Indonesia di GA sedangkan aku di Produksi. Kami satu angkatan jadi memang cukup akrab karena saat itu PT. T.RAD Indonesia masih belum berproduksi dan cuma ada beberapa pekerja saja. Susi keluar dari PT.T.RAD Indonesia karena kandungannya yang makin membesar dan suaminya meminta berhenti bekerja.

Semoga sukses selalu, semoga diberikan kesehatan dan keselamatan ya Sus,,,,

Senin, April 11

Yana Kena Tonjok

Jam sepuluh pagi kemaren, Yana dari Intercooler Line minta ijin untuk keluar sampai jam satu siang dengan alasan keperluan keluarga. Aku tak memberi ijin jika keperluan yang disampaikannya tidak jelas. Keperluan keluarga sangat luas, mungkin di kertas dia boleh menulis dengan alasan tersebut, tetapi aku harus tahu dengan jelas apa jenis keperluan keluarganya.

Akhirnya dia cerita, kemaren ada masalah dengan orang lain. SMS tak senonoh masuk ke HP ceweknya, Yana tak terima dan meminta si pengirim SMS untuk minta maaf tapi malah dikasih bogem mentah.

Masalahnya cuma itu, tapi keluarga Yana nggak terima dan memilih menuntut si pemukul. Aku pribadi lebih setuju dengan jalan yang dia tempuh, menuntut lewat jalur hukum. Bukan masalah kecil atau besar, tetapi sebagai peringatan agar orang nggak maen tonjok sama orang lain. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tentu ada konsekwensinya dan sebelum melakukannya kita harus tahu akibat yang akan timbul sebelum menyesal nantinya.

Benar saja, akhirnya keluarga penonjok minta damai dengan uang ganti. Besarnya aku tak tahu, tetapi bagaimanapun si penonjok terbukti sudah kalah. Dasar PECUNDANG.

Jumat, April 8

PROTON

New Bisnis, mulai bulan depan kami membuat Intercooler untuk mobil Proton Exora.

Satu bulan dua orang operator di training ke Jepang ( Shiga Ken ) untuk belajar pengelasan aluminium dan senin ini pulang kembali ke Indonesia. Sempat ada sedikit kekhawatiran kalau keduanya akan kabur dan menjadi pekerja ilegal disana, karena nota bene kedua operator tersebut pernah tinggal di Jepang selama tiga tahun sebagai Kenshusei. Sama sepertiku, dan aku tahu persis keadaan disana akan lebih mudah mencari uang dibanding harus kembali pulang ke Indonesia.

Untuk itulah, sebelum keberangkatan mereka aku pesan agar mereka ingat tujuan ke Jepang hanya untuk satu bulan satu minggu, kemudian kembali ke Indonesia untuk bekerja seperti biasanya. Dan mengenal keduanya selama ini, sebenarnya kekhawatiranku tak beralasan. Ayub dan Alfi, keduanya orang-orang yang nurut.

Seperti yang sudah-sudah, proyek baru membutuhkan energi baru. Belum lagi selesai masalah dengan Press Line, datang Proton, sebentar lagi Mitsubishi, Daihatsu dan ada juga project baru dari Honda Motor, sementara itu permintaan dari Yamaha Motor melonjak tinggi hingga bulan Agustus.

Pada saat yang bersamaan Pak Wendy atasanku Assistant Manager mengundurkan diri dan belum ada penggantinya. Mau ga mau, sebagai orang produksi kami harus lebih banyak mencurahkan energi. Untuk perusahaan, tentu dengan bertambahnya project bisnis adalah hal yang sangat menguntungkan secara materi, tapi bagi aku mungkin tak jauh berbeda.

Ah,,, aku jadi kangen sama Asa, Rona, Tumini dan Paijo.

Kamis, April 7

Seni & Keluarga

Telfon datang dari seorang teman, menanyakan kabar kenapa aku tak datang pada acara TIKAR BERSAMA (TB) yang diadakan oleh Teater Istorina Cikarang pada hari sabtu 2 April 2011.

Bukan aku tak menghargai undangan mereka, tetapi malam itu aku harus mengantar Asa kontrol ke Rumah Sakit. Apa boleh buat, aku rasa keluarga lebih penting dari berkesenian.

Aku minta agar dia mengirim PRESS RLEASE lewat email tentang acara malam itu, tapi hingga berhari-hari tak juga ada email masuk memberitakan tentang acara tersebut.
Memang, menulis pres realese tak mudah, bahkan bagi seorang seniman sekalipun.

Menulis, ternyata bukan suatu kebudayaan dalam masyarakat Indonesia. Mereka lebih banyak bertutur dengan budaya lisan, sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang hilang di tanah pertiwi karena biasanya disampaikan dengan cara lisan. Dan yang namanya ucapan, tentu akan berbeda dengan tulisan dari segi panyampaian dan kelanggengannya. Ucapan bisa dilu[pakan, tetapi tulisan bisa menjadi sebuah dokumentasi yang berumur panjang.

Itulah mungkin mengapa sejarah bangsa Indonesia tidak terekam dalam sejarah dunia seperti negara-negara yang lain. Majapahit dengan patihnya Gajah Mada sangat dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, tetapi coba baca tentang sejarah dunia, sangat kecil membahas tentang Indonesia.

Kembali ke masalah kesenian, aku semakin menyadari bahwa KESENIAN BUKAN JALAN HIDUPKU. Kesenian hanyalah sebuah jendela, tempat aku menghirup udara segar setelah rutinitas hidup yang keras. Saat itulah kesenian terasa menyenangkan, berbeda ketika kesenian menjadi pegangan untuk hidup, ia menjadi sebuah rutinitas yang membosankan dan akhirnya tak ada lagi pelepas lelah karena segalanya telah berubah menjadi hal yang rutin dan kaku.

Hidup adalah sebuah pilihan, dan aku telah memilih posisi dalam kesenian sebagai seorang penikmat. Berkesenian karena dorongan hati, bukan tuntutan perut atau ingin dikenal. Berkesenian karena memang ingin berkesenian, tanpa meninggalkan keluarga dan tanggung jawab yang lain. Berkesenian hanya ketika ada waktu, bukan mencuri waktu anak dan istri. Seni adalah keindahan, karenanya aku ingin hidupku tetap indah dengan kesenian, bukan berkesenian dengan membabi-buta.

Bagi orang lain yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk kesenian, itu adalah pilihan hidup anda. Tak ada yang salah. Masing-masing memilih jalan, dan semoga tak ada yang disesali dari jalan yang kita pilih.

Sabtu, April 2

Mas Tejo

Pagi hari, jam 04.30. Rona terbangun karena ada SMS masuk. Dari adikku Esti untuk aku. Beberapa saat kemudian SMS lain masuk dari nomor tak dikenal. Kalimatnya berbeda tetapi isinya sama.

Meminta hadiah Al-Fatihah untuk Mas Tejo, semalam dia dipanggil Allah. Ada perasaan marah, sedih dan sepi membaca keterangan bahwa Mas Tejo yang nyambi kerja sebagai security di sebuah perusahaan di kota Cirebon meninggal karena lehernya dig*r*k sekawanan perampok. Semalam.

Langsung kuhubungi keluarga di Tegal lewat lelefon, berita tersebut benar adanya.

Mas Tejo, kakak sepupuku. Dia seorang anggota TNI yang menikahi anak Bude Uripah, kakak ibuku. Tetapi walaupun dia seorang anggota TNI, sikap dan tindak tanduknya sangat sopan dan jauh sekali dari kesan sombong dan congkak.

Setahuku, banyak anggota TNI atau polisi yang bertingkah sok jagoan ketika mereka hidup di masyarakat. Tetapi sikap tersebut tidak ada dalam diri Mas Tejo. Memang aku memiliki banyak saudara yang menjadi anggota TNI dan guru, ada juga yang menjadi seorang intel. Bahkan adikku Dian, rencananya bulan Mei 2011 juga akan menikah dengan cowoknya yang nota bene seorang TNI AL.

Mungkin karena penghasilan seorang TNI yang tak seberapa, saat pindah tugas ke Cirebon Mas Tejo nyambi juga bekerja sebagai security pada sebuah perusahaan swasta. Dan begitulah, semalam sekawanan perampok telah menjadi perantara kepulangan Mas Tejo ke hadapan Allah.

Teringat kebaikan-kebaikan Mas Tejo, sikapnya yang santun dan ramah, anak-anaknya yang belum mandiri dan masih membutuhkan sosok seorang ayah, ada rasa ngilu dalam dadaku.

Semoga dosa-dosa Mas Tejo diampuni Allah SWT, semoga Allah meridhoi, semoga darah yang tertumpah menjadi air yang menyejukkan di akhirat nanti. Karena aku tahu, saat aku tertidur semalam, Allah tidak tidur dan menyaksikan kejadian tersebut.

Jumat, April 1

Berat badan Asa.

Sudah lama sebenarnya berat badan Asa bermasalah. Kenaikannya tidak seperti yang diharapkan. Dan sudah sejak lama pula kami berkonsultasi, awalnya dengan bidan tempat Asa dilahirkan. Tak ada jawaban memuaskan, menurutnya anak memiliki karakter yang berbeda dan Asa memang memiliki tubuh yang mungil dan itu sudah pembawaan. Aku kurang puas, karena Asa lahir dengan berat badan 3,8 kg panjang 51. Rasanya termasuk ukuran yang besar bagi bayi di Indonesia.

Pindah ke dokter spesialis anak, beberapa dokter juga mengatakan hal yang sama. Bahkan salah seorang dokter menyarankan agar kami mengganti susu buat Asa. Saat ini susu yang kami gunakan morinaga, dan dia menyarankan menggunakan Neosure. Untuk satu tahun ke atas biasanya orang menggunakan pediasure, tetapi karena Asa masih di bawah satu tahun maka Neosure lah yang harus diberikan.

Kami turuti, tetapi tetap tidak banyak membantu. Berat badan Asa walaupun bertambah tetapi tidak maksimal. Masalah makan, Asa tidak bermasalah. Bahkan nafsu makannya lebih baik dibandingkan anak seusianya, mungkin hanya minum susu yang rada males.

Karena dokter-dokter spesialis anak yang kami temui mengatakan tidak ada masalah pada Asa, maka kami mencoba untuk bersikap tenang. Tetapi tetap saja pertanyaan-pertanyaan mengganjal dalam benak kami. Apa yang salah dengan Asa..? Anaknya lincah dan jarang sakit, makan banyak, bahkan setiap melihat mangkok atau piring dia akan minta 'Maem.."

Dan ketika anak-anak komplek banyak yang batuk, Asa tertular juga. Kami bawa dia ke Rumah Sakit Harapan Keluarga Lippo Cikarang dan bertemu dengan dokter Baginda SPA. Tetapi bukan masalah batuk yang menjadi perhatian dr. Baginda. Dia justru mempermasalahkan berat badan Asa. Menurutnya, selama Asa hidup di Indonesia, maka terkena batuk dua kali dalam satu bulan masih hal yang wajar. Tetapi untuk berat badan Asa harus ada penanganan karena ada yang janggal. Dokter Baginda meminta kami melupakan analisa dokter-dokter spesialis anak sebelumnya yang mengatakan tidak ada masalah pada Asa.

Kami kembali menemukan harapan, menemukan asa untuk Asa.

Tumini, Paijo dan Asa 2

Menyambung masalah Tumini dan Paijo, awalnya memang agak ragu jika harus membelinya dengan harga yang lumayan tinggi. Tetapi keraguan tersebut justru hilang saat aku datang ke peternak Lovebird di Rawalumbu. Lovebird, bukan hanya bagus sebagai burung peliharaan, tetapi rasanya bagus pula jika untuk diternakkan karena sifatnya yang mudah akrab dengan manusia, tidak mudah stres dan memiliki birahi yang tinggi.

Mulailah kemudian mencari informasi tentang lovebird di internet. Kemudian dengan waktu yang tersisa di malam hari kubuat kandang untuk Tumini dan Paijo di lantai dua rumahku. Awalnya kubeli sebuah sangkar yang dijual di pedagang, tetapi rasanya terlalu sempit untuk mengepakkan sayap-sayap Tumini dan Paijo.

Maka Asa memiliki mainan baru. Tetapi aku kemudian berfikir, sebenarnya Tumini dan Paijo milik Asa atau milikku..? Tentu milik kami, Aku, Asa dan Rona. Tetapi apakah benar Asa menginginkan Lovebird itu, atau justru keinginanku meminjam Asa sebagai alasan pembenaran..? Mengatas namakan orang lain untuk memiliki apa yang menjadi keinginan kita pribadi bukankah sebuah tindakan pengecut..?

Para pemimpin, anggota dewan yang terhormat, dengan segala macam dalih dan upaya, mengatasnamakan rakyat rasanya bukan sesuatu yang baru dan bukan rahasia lagi kalau sebenarnya apa yang mereka inginkan adalah ambisi pribadi yang dibalut sedemikian rupa seakan-akan itu adalah kehendak rakyat.

Dan aku, telah mengatasnamakan seorang anak, darah dagingku, seorang insan yang belum mengenal dosa sebagai alasan untuk memuaskan keinginanku semata. Asa, jika kau besar nanti dan mengetahui hal ini, semoga kau memaafkan ayahmu.

Rabu, Maret 30

Tumini, Paijo dan Asa

Tak ada hubungannya. Benar, Tumini dan paijo hanya sepasang burung Lovebird yang aku beli beberapa waktu yang lalu. Asa adalah anakku, darah dagingku.

Lama tak sempat ngebuka blog, rasanya banyak hal yang luput aku tuliskan beberapa waktu belakangan ini. Pekerjaan menumpuk, waktu menipis. Tapi tak masalah, itu lebih baik daripada waktu yang menumpuk tanpa pekerjaan, rasanya seperti mati sebelum mati.

Kembali ke Tumini dan Paijo, dua burung lovebird ini aku beli di Rawalumbu untuk Asa, sebagai hadiah ulang tahunnya yang pertama. Dia suka binatang. Setiap kali maen ke rumah tetangga yang memiliki burung perkutut Asa nggak mau pulang, pengennya lihat burung terus. Rasanya membelikannya sepasang burung tidak berlebihan. Tapi untuk burung perkutut aku kurang suka, aku lebih suka burung dengan warna yang indah, dan pilihan pertama jatuh pada burung parkit.

Tetapi burung parkit tak memiliki suara yang bagus, jadi pilihan kedua jatuh ke burung lovebird walau harganya jauh berbeda. Parkit mungkin 50 rebuan bisa dibawa pulang, tetapi Tumini dan Paijo harus aku keluarkan duit satu setengah juta untuk memilikinya.

Ah,,, hari mulai siang. Pekerjaan telah menunggu, mungkin lebih baik aku lanjutkan esok hari.
Salam,,,,,,,,,

Senin, Maret 14

LAMARAN

Minggu, aku lupa kalau nanti malam ada acara lamaran Reno sama Yani. Pagi-pagi Rona ribut minta beli baju batik pasangan, mau ga mau akhirnya pergi juga ke SGC untuk membeli baju tersebut. Padahal niatku hari ini adalah ngelarin bikin kandang untuk burung lovebird yang aku beli minggu lalu.

Memang burung tersebut sudah aku tempatkan dalam kandang yang memang dibuat khusus untuk burung lovebird, tetapi kandang tersebut menurutku terlalu kecil, apalagi untuk burung yang berpasangan. Kasihan, mereka tak bebas bergerak, dan karena berpasangan akan sulit bila berkembang biak jika tempat tinggal mereka terlalu sempit.

Malamnya sebelum maghrib hujan turun. aku sudah dirumah mbenerin kandang, datang Sultan adik iparku membawa kado untuk ulang tahun Asa kemarin. Asa lahir 12 Maret 2010, usianya kini sudah setahun. Tak ada pesta, kami cuma memesan nasi kuning dan kami bagikan ke tetangga satu RT.

Malamnya gerimis belum sepenuhnya reda. Pergi ke Cikarang sama Rona untuk ikut melamar walau ternyata sampai disana sudah telat. Acara sudah dimulai, sementara alamat rumah tepatnya kami tidak tahu. Kami cuma menunggu di tepi jalan di depan Alfa Mart karena cuma ancer-ancer itu yang kami tahu.

Akhirnya Reno datang menjemput kami. Acara berjalan seperti biasa, rencana pernikahan ditetapkan tanggal 1 Mei 2011.

Minggu, Maret 13

GEMPA

Jepang diguncang gempa pada 11 Maret 2011. Melihat berita di internet, ternyata pusat gempa berada di Sendai, beberapa ratus kilometer dari Tokyo. Namun guncangan gempa yang cukup besar tersebut praktis melumpuhkan kota-kota disekitarnya, termasuk Tokyo.

Teringat teman-teman yang tinggal di wilayah sekitar Tokyo, aku coba hubungi mereka tetapi sayang jaringan telefon tidak berfungsi. Bahkan jika melihat berita di TV daerah Tokyo gelap karena listrik padam.

Semoga teman-teman di Tokyo sehat selalu.

Kamis, Maret 3

Audit Press Line

Tanggal 3 Maret, selesai sudah audit P2 Press Line. Auditor terdiri dari 3 orang, Nakagawa San dari Jepang, Horie San dari Jepang dan Kawano San dari TRAD Thailand.

Nakagawa San sudah sering ke Indonesia, Kawano San baru dua kali tetapi Horie San baru kali ini.

Banyak catatan yang tersisa dari hasil audit. Sebenarnya, keadaan Press Line di T.RAD Indonesia menurutku jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan T.RAD Thailand. Saat aku ke Thailand dan belajar tentang mesin press disana, tentu dapat menilai semuanya. Hanya satu kekurangan Indonesia menurutku, masalah speed. Tetapi masalah kecepatan kerja tentu masih bisa dimaklumi karena operator di Indonesia masih dalam status training sedangkan operator di Thailand sudah melakukannya lebih dari dua tahun, bahkan ada yang mungkin sepuluh tahun. T.RAD Thailand sendiri sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sedangkan Indonesia untuk Press line belum Mass Produksi.

Tapi ada hal yang sebenarnya membuatku malu. Saat kami ke Thailand, penerimaan dan sambutan mereka sangat luar biasa. Bahkan Kawano San yang nota bene seorang MD mau mengajak kami jalan-jalan makan malam, sedangkan sambutan T.RAD Indonesia terhadap tamu menurutku sangat kurang.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika Nagaishi datang dari Thailand, justru aku yang ngajak dia untuk makan malam padahal Nagaishi San seorang General Manager. Seharusnya atasan puncak yang melakukannya.

3 Maret 2011.

Senin, Februari 28

Asa Pilek

Pulang dari kampung Asa pilek. Hidungnya mampet. Itu yang membuatnya kesulitan bernafas dan tentu ketika tidur menjadi sesuatu yang sangat mengganggu. Tak terbayangkan bagaimana rasanya bagi seorang anak usia 11 bulan, sedangkan aku saja merasa sangat tersiksa jika harus tidur dengan keadaan hidung yang tersumbat seperti itu.

Asa tidur dengan gelisah, putar kiri-kanan, tengkurep telentang, rasanya tak ada posisi yang enak. Aku ikut gelisah. Rona resah.

Tengah malam, mungkin karena sudah tak tahan Asa menangis keras. Kami berusaha menenangkannya dengan berbagai cara, namun akhirnya dia bisa diam setelah aku ambilkan calender bergambar dan mulailah aku bercerita. Asa diam memperhatikan ceritaku, dalam gendonganku, dengan calender yang dipegang ibunya.

Entahlah, saat-saat seperti itu aku justru merasa menjadi manusia yang punya arti. Aku merasa berguna, merasa ada yang membutuhkan walau cuma keluargaku sendiri. Aku teringat tulisan-tulisan Samuel Mulia di KOMPAS minggu yang karena kegagalannya membangun sebuah keluarga hampir selalu menuliskan tentang betapa bahagianya menjadi orang yang tak terikat dengan komitmen perkawinan. Alasan-alasan yang selalu diungkapkannya adalah pengalaman teman-teman dan kenalannya yang selalu tersiksa dalam menjalin hubungan pernikahan. Kekerasan dalam rumah tangga, kebohongan-kebohongan, perselingkuhan dan tetek bengek masalah lain yang tentu saja akan menjadi sebuah batu sandungan dalam rumah tangga.

Dia, Samuel Mulia belum pernah merasakan betapa damainya berpelukan dengan seorang anak yang didalamnya mengalir darah kita, dan aku tak ingin menukarnya dengan apapun yang bernama dunia.

Minggu, Februari 27

Pulang Kampung

Tanggal 23 Februari 2011, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan terkait dengan audit di Press line aku pulang agak terburu. Hari ini aku akan pulang ke Tegal bareng Rona dan Asa, karena akan mengantar Bapak pergi umrah tanggal 25 February 2011.

Pulang kerja, dalam perjalanan ke Rawa Lumbu hujan di tengah jalan, berhenti sebentar tetapi kelihatannya hujan akan berlangsung lama. Mau tak mau aku putuskan menembus hujan saja daripada nanti ketinggalan travel yang akan menjemputku.

Travel datang jam 10an malam. Asa sudah tidur. Satu mobil cuma ada tiga orang penumpang, aku, Rona dan Asa. Menembus malam, menuju Tegal yang basah oleh gerimis dan hujan.

Senin, Februari 21

Entah

Kemaren, saat menulis tentang Asa ternyata di rumah dia sedang rewel dan nangis kejer. Rona telp saat istirahat makan siang. Ah,,, menurutnya gara-gara aku ingat-ingat tentang dia, Asa jadi rewel. Memangnya nyambung ..? Tak tahu juga, tapi lebih baik hari ini aku tak usah mengingatnya biar dia nggak rewel. Asa maen aja sepuasnya ya, jalan di depan semakin banyak beban,,, nikmati saja waktu yang ada.

Pagi berangkat kerja dari Rawa Lumbu, jalanan yang basah sisa hujan semalem. Mata masih sedikit mengantuk tapi kupaksakan untuk melek.

Melewati jalanan Kalimalang yang ancur,,, sudah lama nggak dibenerin. Nggak tahu sampai kapan. Yang namanya pelayanan publik di Indonesia memang menjadi sesuatu yang sangat susah dinikmati. Negara yang dulu kubanggakan, entah mengapa kebanggaan pada negeri sendiri semakin terkikis, semakin luntur, semakin kabur berganti kekecewaan dan kekecewaan. Entah sampai kapan,,,,

Entah,,,

Minggu, Februari 20

Rewang Pulang

Pembantuku pulang kampung minggu ini. Yang kemudian terbayang adalah sederetan kerepotan-kerepotan yang sebentar lagi akan menghampiri kami, terutama masalah Asa.

Bagiku nggak masalah, kalau masalah makan, nyuci dan pekerjaan lain rasanya tidak terlalu perlu dikhawatirkan. Tetapi Asa, harus tetap ada yang momong dan rasanya tak mungkin dilakukan olehku atau Rona karena kami sama-sama bekerja. Mau tidak mau untuk sementara Asa kami ungsikan ke rumah Mbahnya di Rawa Lumbu.

Tanggal 23 nanti kami juga akan pulang ke Tegal. Rencananya mau ngantar Bapak umroh, tetapi semalam Ibu memberitahu lewat telepon bahwa untuk rombongan pengantar ditiadakan karena jumlahnya yang cuma dua belas orang. Mungkin kalau dipaksain panitia akan tekor, jadi salah satu pilihan adalah dengan meniadakan rombongan pengantar. Padahal rencananya kami akan mengikuti rombongan pengantar sekalian pulang ke Bekasi. Tapi tak masalah, mungkin kami akan kembali ke Bekasi tanggal 25 malam atau 26 pagi.

Dan sementara ini, tanggal 21 sampai 23 aku harus berangkat kerja dari Rawa Lumbu.