Cuti dua hari pada kamis dan jum'at disambung sabtu minggu yang nota bene adalah hari libur perusahaan. Sayangnya hari sabtu ada jadwal training ISO TS, jadi bersiap masuk pada hari sabtu.
Namun jum'at siang, SMS dari anjar datang mengabarkan bahwa sabtu jadwal ISO ditiadakan karena suatu hal. Wuih,,, sudah terbayang libur yang lumayan panjang. Empat hari bo...
Dan begitulah, empat hari berusaha untuk tidak memikirkan masalah kerja. Rasanya otak ini juga butuh istirahat.
Dan senin datang juga. Pekerjaan telah menunggu,,,
Senin, Oktober 25
Rabu, Oktober 20
IMUNISASI
Pagi hari, ada sedikit obrolan ringan pengasuh bayiku dengan tetangga sebelah. Tetangga menanyakan kenapa anakku Asa nangis terus semalam. Ya, anakku memang semalem agak meriang dan rewel. Sebenarnya bukan sakit yang terlalu serius, tapi sekedar efek karena pagi harinya dia diimunisasi.
Mendengar Asa diimunisasi, sang tetangga baru yang kebetulan aku belum tahu namanya itu berkomentar, bahwa dalam hukum Islam imunisasi itu haram. Alasannya dalam vaksin tersebut mengandung enzim Babi.
Aku tak berkomentar. Tak membantah juga tak mengiyakan. Tapi tentu terfikirkan.
Dan seperti biasa, mencari informasi dari mbah google tentang hukum imunisasi. Seperti biasa, hasilnya buanyak dan beragam. Advis yang berkembang beraneka ragam, ada yang mengharamkan, ada juga yang menghalalkan tentunya masing-masing dengan berbagai sudut pandang dan argumentasi masing-masing.
Adapun denganku, tentu harus menyaring semua itu dengan hati-hati agar bisa mengambil keputusan dengan benar. Untuk saat ini biar pencarianku berkembang, biar kubaca semua artikel dan pendapat yang ada, biar semua dasar dan argumentasi aku pelajari.
Mendengar Asa diimunisasi, sang tetangga baru yang kebetulan aku belum tahu namanya itu berkomentar, bahwa dalam hukum Islam imunisasi itu haram. Alasannya dalam vaksin tersebut mengandung enzim Babi.
Aku tak berkomentar. Tak membantah juga tak mengiyakan. Tapi tentu terfikirkan.
Dan seperti biasa, mencari informasi dari mbah google tentang hukum imunisasi. Seperti biasa, hasilnya buanyak dan beragam. Advis yang berkembang beraneka ragam, ada yang mengharamkan, ada juga yang menghalalkan tentunya masing-masing dengan berbagai sudut pandang dan argumentasi masing-masing.
Adapun denganku, tentu harus menyaring semua itu dengan hati-hati agar bisa mengambil keputusan dengan benar. Untuk saat ini biar pencarianku berkembang, biar kubaca semua artikel dan pendapat yang ada, biar semua dasar dan argumentasi aku pelajari.
Selasa, Oktober 12
Seniman
Sebuah pesan datang ke Facebookku, isinya tentang kekecewaan seorang penulis puisi pada sepak terjang dan perilaku para seniman di Tegal yang menurutnya hanya mencari sensasi dan populeritas semata.
Pada beberapa hal aku setuju, namun tentu saja ada juga hal lain yang menurutku perlu diluruskan.
Aku, yang jelas bukan seorang pekerja seni walau terus terang memiliki ketertarikan dalam dunia seni. Aku seorang pekerja, yang terkadang menghasilkan karya seni. Tapi aku bukan orang yang hidup dari dunia kesenian.
Jelas, pergaulanku dengan beberapa seniman tidak terlalu intens, bahkan boleh dibilang aku jarang bergaul dengan mereka. Alasannya, malu karena aku tidak memiliki karya. Bertahun-tahun aku mencoba berkarya dalam sepi, mencoba membuat sesuatu yang nantinya dapat kujadikan bekal untuk dapat bergaul dan diterima oleh komunitas seni di kota kelahiranku. Namun tetap saja tak ada sesuatu yang menurutku dapat dibanggakan dari apa yang aku hasilkan.
Namun seperti juga ikan, dia butuh air sebagai media untuk melangsungkan kehidupannya. Seperti seekor burung, aku butuh dahan dan ranting tempat untuk hinggap dan istirah. Dan begitulah akhirnya aku mulai mengenal para pelaku kesenian di Tegal walau mereka mungkin tak mengenalku.
Keanehan terjadi. Saat bertemu, bergaul dan ngobrol bersama mereka, aku merasa berhadapan dengan seniman-seniman besar : dari cara berbicara, pakaian, bahkan kentut mereka pun terasa sangat indah dan merdu laksana nyanyian burung di pagi hari. Namun sayangnya, aku disuguhi dengan mengenal sosok mereka. Bukan karya mereka.
Jika sebelumnya aku mengenal berbagai seniman dari hasil karyanya, kemudian penasaran dengan sosoknya, maka yang terjadi di Tegal sedikit berbeda. Aku diperkenalkan pada sosok mereka, kemudian setengah mati mencari karya mereka. Dan rupanya, hal ini tidak hanya terjadi di Tegal saja. Di kota-kota lain pun, banyak seniman-seniman yang miskin karya namun bertingkah laku sok nyeni. Bahkan parahnya lagi, para seniman tua pun terkena penyakit Posh power syndrome. Mereka hanya membanggakan kejayaan masa lalu mereka, padahal hal itu mereka lakukan hanya untuk menutupi kemandegan mereka berkarya, mencari alasan untuk tetap duduk di dewan kesenian sambil menunggu proyek pementasan pada acara seremonial pejabat pemerintah.
Lucu memang, bicara tentang kemandirian namun untuk membiayai pementasan mereka hanya mengandalkan proposal. Mendekat pada birokrat sehingga timbul simbiosis mutualisme, kerja sama yang saling menguntungkan. Pejabat senang bisa membangun image dan memiliki media tebar pesona, sementara sang seniman senang mendapatkan banyak order manggung.
Dari hubungan harmonis semacam itu, apakah kemudian seniman bisa menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol pemerintah...? Kenapa hal ini bisa terjadi ? Karena karya mereka memang tidak layak jual. Dan yakinlah, masyarakat awam adalah kritikus seni yang paling jujur. Mereka hanya akan membeli karya seni yang menurut mereka menarik.
Pada beberapa hal aku setuju, namun tentu saja ada juga hal lain yang menurutku perlu diluruskan.
Aku, yang jelas bukan seorang pekerja seni walau terus terang memiliki ketertarikan dalam dunia seni. Aku seorang pekerja, yang terkadang menghasilkan karya seni. Tapi aku bukan orang yang hidup dari dunia kesenian.
Jelas, pergaulanku dengan beberapa seniman tidak terlalu intens, bahkan boleh dibilang aku jarang bergaul dengan mereka. Alasannya, malu karena aku tidak memiliki karya. Bertahun-tahun aku mencoba berkarya dalam sepi, mencoba membuat sesuatu yang nantinya dapat kujadikan bekal untuk dapat bergaul dan diterima oleh komunitas seni di kota kelahiranku. Namun tetap saja tak ada sesuatu yang menurutku dapat dibanggakan dari apa yang aku hasilkan.
Namun seperti juga ikan, dia butuh air sebagai media untuk melangsungkan kehidupannya. Seperti seekor burung, aku butuh dahan dan ranting tempat untuk hinggap dan istirah. Dan begitulah akhirnya aku mulai mengenal para pelaku kesenian di Tegal walau mereka mungkin tak mengenalku.
Keanehan terjadi. Saat bertemu, bergaul dan ngobrol bersama mereka, aku merasa berhadapan dengan seniman-seniman besar : dari cara berbicara, pakaian, bahkan kentut mereka pun terasa sangat indah dan merdu laksana nyanyian burung di pagi hari. Namun sayangnya, aku disuguhi dengan mengenal sosok mereka. Bukan karya mereka.
Jika sebelumnya aku mengenal berbagai seniman dari hasil karyanya, kemudian penasaran dengan sosoknya, maka yang terjadi di Tegal sedikit berbeda. Aku diperkenalkan pada sosok mereka, kemudian setengah mati mencari karya mereka. Dan rupanya, hal ini tidak hanya terjadi di Tegal saja. Di kota-kota lain pun, banyak seniman-seniman yang miskin karya namun bertingkah laku sok nyeni. Bahkan parahnya lagi, para seniman tua pun terkena penyakit Posh power syndrome. Mereka hanya membanggakan kejayaan masa lalu mereka, padahal hal itu mereka lakukan hanya untuk menutupi kemandegan mereka berkarya, mencari alasan untuk tetap duduk di dewan kesenian sambil menunggu proyek pementasan pada acara seremonial pejabat pemerintah.
Lucu memang, bicara tentang kemandirian namun untuk membiayai pementasan mereka hanya mengandalkan proposal. Mendekat pada birokrat sehingga timbul simbiosis mutualisme, kerja sama yang saling menguntungkan. Pejabat senang bisa membangun image dan memiliki media tebar pesona, sementara sang seniman senang mendapatkan banyak order manggung.
Dari hubungan harmonis semacam itu, apakah kemudian seniman bisa menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol pemerintah...? Kenapa hal ini bisa terjadi ? Karena karya mereka memang tidak layak jual. Dan yakinlah, masyarakat awam adalah kritikus seni yang paling jujur. Mereka hanya akan membeli karya seni yang menurut mereka menarik.
Rabu, Oktober 6
KEMBALI KE RUMAH MAYA
Berbulan, bahkan sudah melewati hitungan tahun,, ruang ini tak lagi kusambangi. Bukan berarti aku sudah berhenti menulis, tapi ada media lain yang saat ini aku gunakan sebagai ruang ekspresiku.
Facebook menjadi salah satunya. Tapi ada sedikit kekecewaan, karena ruang tersebut terlalu banyak berisi tempat sampah,,,
Mungkin, sepi yang kulalui harus tetap kutuliskan disini.
Facebook menjadi salah satunya. Tapi ada sedikit kekecewaan, karena ruang tersebut terlalu banyak berisi tempat sampah,,,
Mungkin, sepi yang kulalui harus tetap kutuliskan disini.
Langganan:
Postingan (Atom)