Kemudian dia menangis
menggenggam dua lembar rupiah sisa jatah yang dikentit
Lincak kayu telah lama dimakan kutu
Ayam dibelakang rumah telah lama mati masuk angin dan flu
Telapak kakinya pecah-pecah seperti juga sawah yang tak lagi berkah
Padi puso belalang entah ke mana
Koreng dilutut berbagi kasih dicumbu lalat
Ketombe di kepala menjadi hujan salju
Ia menunggu
Ratu yang dijanjikan tak kunjung lahir dari rahim ibu pertiwi yang mandul
Sabtu, Juli 26
Jumat, Juli 25
Aku punya rencana membuat majalah komik, menerbitkan kembali komik-komik yang sudah diterbitkan kemudian menjualnya di sekolah SMP/SMU. Tentu kerja sama atau meloby pihak sekolah baik kepala sekolah atau pengurus koperasi sekolah.
Awalnya aku ingat bahwa untuk menjual sesuatu pada satu orang, kita harus menawarkannya kepada 100 orang. Itulah prinsip iklan.
Bayangkan dalam satu sekolah biasanya ada 8 lokal kelas dalam satu angkatan, sekelas ada 40 siswa, sekolah ada 3 angkatan kelas. Maka 3 angkatan x 8 kelas x 40 siswa = 960 siswa dalam satu sekolah. Di bekasi, jumlah sekolah SMP dan SMU baik swasta maupun negeri lebih dari 50 sekolah. Anggap saja 50 sekolah saja, maka 50 sekolah x 960 siswa = 48.000 siswa.
Pertengahan bulan sebelum terbit dibuatkan poster dan ditempelkan di 50 sekolah se Bekasi, dan siswa yang berminat bisa memesannya di koperasi sekolah atau guru. Dengan begitu saat awal bulan aku hanya mencetak majalah komik sesuai jumlah pesanan. Artinya kemungkinan rugi kecil. Biaya poster juga paling banter cuman bikin buat 50 sekolah dan iklan bisa menggapai 48.000 siswa, tentu tanpa saingan karena komik luar hanya nangkring di toko buku dan ga semua siswa doyan maen ke toko buku.
Masalahnya kemudian materi komiknya. Namanya majalah, tentu terbitnya bulanan atau rutin lah minimal. Kemampuanku bikin komik maksimal satu halaman sehari. Tentu harus beli komik orang dan biar lebih murah ya beli yang pernah diterbitkan tapi ga laku dipasaran.
Tanya sana-sini, barusan aku tanya juga sama komikus lewat chating. Ternyata harga komik perhalaman di Indonesia sekarang rata-rata Rp. 100.000 perhalaman bw, atau Rp 150-200 ribu untuk warna. Halah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, mahal pollllllllllllllllllllllll
Padahal aku pengen niru konsep komik Jepang, 400 halaman untuk majalah komik. Lha kalau Rp 100.000 x 400 halaman = Rp 40.000.000 cuman buat beli komik doang. Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa nggak kuaaaaaaaaaaaaaaat,,,,,,,,,,,,,
Hemmmmm putar otak...!!!
Apa mungkin pake sistem royalty aja yah..? umumnya 10-15 % dari keuntungan. Walau ribet ngitungnya, tapi kan bayar komiknya juga ga mahal, kalau dilihat skalaterbitannya yang masih lokal...
Ah, pikir cara lain lagi deh,,,, namanya juga rencana. OPTIMIS TAPI HARUS TETAP REALISTIS,,,,,
Awalnya aku ingat bahwa untuk menjual sesuatu pada satu orang, kita harus menawarkannya kepada 100 orang. Itulah prinsip iklan.
Bayangkan dalam satu sekolah biasanya ada 8 lokal kelas dalam satu angkatan, sekelas ada 40 siswa, sekolah ada 3 angkatan kelas. Maka 3 angkatan x 8 kelas x 40 siswa = 960 siswa dalam satu sekolah. Di bekasi, jumlah sekolah SMP dan SMU baik swasta maupun negeri lebih dari 50 sekolah. Anggap saja 50 sekolah saja, maka 50 sekolah x 960 siswa = 48.000 siswa.
Pertengahan bulan sebelum terbit dibuatkan poster dan ditempelkan di 50 sekolah se Bekasi, dan siswa yang berminat bisa memesannya di koperasi sekolah atau guru. Dengan begitu saat awal bulan aku hanya mencetak majalah komik sesuai jumlah pesanan. Artinya kemungkinan rugi kecil. Biaya poster juga paling banter cuman bikin buat 50 sekolah dan iklan bisa menggapai 48.000 siswa, tentu tanpa saingan karena komik luar hanya nangkring di toko buku dan ga semua siswa doyan maen ke toko buku.
Masalahnya kemudian materi komiknya. Namanya majalah, tentu terbitnya bulanan atau rutin lah minimal. Kemampuanku bikin komik maksimal satu halaman sehari. Tentu harus beli komik orang dan biar lebih murah ya beli yang pernah diterbitkan tapi ga laku dipasaran.
Tanya sana-sini, barusan aku tanya juga sama komikus lewat chating. Ternyata harga komik perhalaman di Indonesia sekarang rata-rata Rp. 100.000 perhalaman bw, atau Rp 150-200 ribu untuk warna. Halah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, mahal pollllllllllllllllllllllll
Padahal aku pengen niru konsep komik Jepang, 400 halaman untuk majalah komik. Lha kalau Rp 100.000 x 400 halaman = Rp 40.000.000 cuman buat beli komik doang. Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa nggak kuaaaaaaaaaaaaaaat,,,,,,,,,,,,,
Hemmmmm putar otak...!!!
Apa mungkin pake sistem royalty aja yah..? umumnya 10-15 % dari keuntungan. Walau ribet ngitungnya, tapi kan bayar komiknya juga ga mahal, kalau dilihat skalaterbitannya yang masih lokal...
Ah, pikir cara lain lagi deh,,,, namanya juga rencana. OPTIMIS TAPI HARUS TETAP REALISTIS,,,,,
Kamis, Juli 24
kabar dari angin
Kabar yang mereka bawa selalu cerita duka
Persoalan yang mereka beberkan melulu kepedihan
Seakan bukit dan lembah tak lagi senandungkan cinta
Kemudian ingin kutuliskan puisi tentang cinta dan asmara
Yang membara dari insan manusia
Pada bulan temaram
Pada bintang yang kini tak lagi dinikmati setiap malam karena telah pucat digilas lampu kota
Ah,, tapi tangisan mereka tetap saja mengusikku
Gelisah mengais hidup dari desa ke kota
Lalu ingin kulukiskan keindahan warna pelangi
yang kini tak pernah lagi kulihat selepas hujan sore maupun pagi
Tapi tetap saja air mata mereka datang laksana badai
Sungguh, aku disini menunggu cerita yang lain.
Yang mungkin membuatku tersenyum sebelum tidur.
Tapi yang datang tetap saja berita duka, tentang korupsi dan kekerasan, tentang kematian dan penindasan.
Persoalan yang mereka beberkan melulu kepedihan
Seakan bukit dan lembah tak lagi senandungkan cinta
Kemudian ingin kutuliskan puisi tentang cinta dan asmara
Yang membara dari insan manusia
Pada bulan temaram
Pada bintang yang kini tak lagi dinikmati setiap malam karena telah pucat digilas lampu kota
Ah,, tapi tangisan mereka tetap saja mengusikku
Gelisah mengais hidup dari desa ke kota
Lalu ingin kulukiskan keindahan warna pelangi
yang kini tak pernah lagi kulihat selepas hujan sore maupun pagi
Tapi tetap saja air mata mereka datang laksana badai
Sungguh, aku disini menunggu cerita yang lain.
Yang mungkin membuatku tersenyum sebelum tidur.
Tapi yang datang tetap saja berita duka, tentang korupsi dan kekerasan, tentang kematian dan penindasan.
Rabu, Juli 16
Sang KECOA
Satu sifat dalam diriku adalah PEMBERONTAK. Apapun yang nggak aku suka ingin sekali aku lawan walau aku tahu aku pasti kalah. Dan aku sering dipecundangi, kemudian lari terbirit seperti seekor kecoa yang menghindari bertemu manusia.
Tapi aku bukan kecoa yang berlari, melainkan kecoa terlentang yang menunggu mati. Mungkin tepat bila akhirnya aku menyebut opiniku sebagai opini kecoa. Kecoa ada ditempat yang kotor dan jorok, orang membenci kecoa, jika bertemu dan membunuhnya tak ada seorang pun yang merasa berdosa. Begitu juga tulisan opini kecoaku. Lahir dari suasana kotor dan jorok, tapi tulisan itu tak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah sesuatu yang kotor menjadi bersih.
Lihatah kecoa, dia memakan kotoran dan berusaha membersihkan tempat-tempat kotor namun dia justru dituduh sebagai biang kekotoran. Padahal kalau tempat bersih tentu sang kecoa enggan bertandang. Kalau dunia ini bersih, aman, ga ada praktek kecurangan, ga ada penindasan, layaknya Surga Firdaus tentu tak akan lahir opini kecoa. Tapi tentu saja sebagai kecoa tak mungkin bisa merubah dunia.
Aku bukan macan, bukan singa padang pasir, bukan pendekar rajawali, bukan sijanggut merah sang bajak laut Karibia, bukan naga, bukan ayam jantan dari timur, bukan putra sang fajar, bukan siburung merak, bukan binatang jalang, bukan presiden penyair, atau julukan sangar dan mengerikan lainnya. Aku cuma seekor kecoa. AKULAH SANG KECOA.
Kecil, bego, lemah, tapi ingin melawan. Kemudian cuma ada dua pilihan : Lari atau Mati. ha,,ha,,ha,,ha,,,,ha,,ha,,ha,,,, merdeka atau mati, memangnya di dunia ini ada orang yang benar-benar merdeka...?????????????????????????????????
Tapi aku bukan kecoa yang berlari, melainkan kecoa terlentang yang menunggu mati. Mungkin tepat bila akhirnya aku menyebut opiniku sebagai opini kecoa. Kecoa ada ditempat yang kotor dan jorok, orang membenci kecoa, jika bertemu dan membunuhnya tak ada seorang pun yang merasa berdosa. Begitu juga tulisan opini kecoaku. Lahir dari suasana kotor dan jorok, tapi tulisan itu tak memiliki kekuatan apapun untuk mengubah sesuatu yang kotor menjadi bersih.
Lihatah kecoa, dia memakan kotoran dan berusaha membersihkan tempat-tempat kotor namun dia justru dituduh sebagai biang kekotoran. Padahal kalau tempat bersih tentu sang kecoa enggan bertandang. Kalau dunia ini bersih, aman, ga ada praktek kecurangan, ga ada penindasan, layaknya Surga Firdaus tentu tak akan lahir opini kecoa. Tapi tentu saja sebagai kecoa tak mungkin bisa merubah dunia.
Aku bukan macan, bukan singa padang pasir, bukan pendekar rajawali, bukan sijanggut merah sang bajak laut Karibia, bukan naga, bukan ayam jantan dari timur, bukan putra sang fajar, bukan siburung merak, bukan binatang jalang, bukan presiden penyair, atau julukan sangar dan mengerikan lainnya. Aku cuma seekor kecoa. AKULAH SANG KECOA.
Kecil, bego, lemah, tapi ingin melawan. Kemudian cuma ada dua pilihan : Lari atau Mati. ha,,ha,,ha,,ha,,,,ha,,ha,,ha,,,, merdeka atau mati, memangnya di dunia ini ada orang yang benar-benar merdeka...?????????????????????????????????
Selasa, Juli 8
E-Mail dari Dian
Kemaren aku dapet email dari Dian. selain tulisan juga foto-foto, yang akan aku upload nanti di MP aja, soalnya blogspot ini ga resep buat bernarsis ria. Ada sedih juga denger Prass meninggal,,, dulu sama Soleh dia jadi pengikut setiaku. Soleh wajahnya aku gambar dengan tokoh Bayungyasa, sementara Prass yang punya lesung pipit di kedua pipinya belum.
ass.....
mas, mau eSuk Q di smS vera anake bulik janah, jare mbengi anak buahe mas prangg si pRass ninggal ng jakarta coz kecelakaAn....
kie jenazahe ezih dlm perjalanan ng tegal.
mau Q nelfon umah pan takon ng mamih malah sng angkat ais najisi menk...
jare aiS ng umAh dewekan lagi dolanan karo kanCa2ne nonton tipi mami karo bapa laka. tak takoni ng ndi aiS jare kLaLen mami karo baPa ng endi.
ey ya kapan2 chatingan yuh mas.emank aR chtngAn karo endang c ngobrol apa bae? wis ora kaRo mas titis pa? mas titis seRing nelfon umAh oh mas, Q sing seRing ngangkaT.
eh ya mas, Q pengin nggawe usaha jare mas pRang usaha apa y? sng modale aja kakean tapi kira2 bisa jalan terus n seLot zue seLot maJu. mas pRangg ngko aR baLik mbuka waRnet ng umah be mas, ngko Q sing njaga wis. hehehe....wis ya. kapan2 nyambung maning oh
wass....
deyant.
ass.....
mas, mau eSuk Q di smS vera anake bulik janah, jare mbengi anak buahe mas prangg si pRass ninggal ng jakarta coz kecelakaAn....
kie jenazahe ezih dlm perjalanan ng tegal.
mau Q nelfon umah pan takon ng mamih malah sng angkat ais najisi menk...
jare aiS ng umAh dewekan lagi dolanan karo kanCa2ne nonton tipi mami karo bapa laka. tak takoni ng ndi aiS jare kLaLen mami karo baPa ng endi.
ey ya kapan2 chatingan yuh mas.emank aR chtngAn karo endang c ngobrol apa bae? wis ora kaRo mas titis pa? mas titis seRing nelfon umAh oh mas, Q sing seRing ngangkaT.
eh ya mas, Q pengin nggawe usaha jare mas pRang usaha apa y? sng modale aja kakean tapi kira2 bisa jalan terus n seLot zue seLot maJu. mas pRangg ngko aR baLik mbuka waRnet ng umah be mas, ngko Q sing njaga wis. hehehe....wis ya. kapan2 nyambung maning oh
wass....
deyant.
Gilaaa,,,, malem ini gue kaget. Janang gendut OL di YM ku.
Prangg RN : Ini siapa yah...? Mas Janang kok OL..?
janang gendut: maaf
janang gendut: ni dengan nunik
Prangg RN : ooo
janang gendut: adenya mas janang
Prangg RN : Nunik tuh siapanya Mas Janang..?
Prangg RN : oh adeknya yah,,,
janang gendut: iya
Prangg RN : Maaf banget yah, ga bisa datang waktu Mas Janang pergi
Prangg RN : Kebetulan aku belum pulang ke Indonesia.
janang gendut: iya ga pa"
janang gendut: mank skrng dmana
Prangg RN : Di Jpn... Yokohama.
Prangg RN : Kok Nunik bisa tahu paswordnya...?
dst,,,,
kemudian ngobrol ama adiknya, minta tolong bantuin nulis buku, semacam biografi buat Mas Janang.
Oh,,, aku sempet kaget dibuatnya. Aku pikir Janang OL beneran,,,
Prangg RN : Ini siapa yah...? Mas Janang kok OL..?
janang gendut: maaf
janang gendut: ni dengan nunik
Prangg RN : ooo
janang gendut: adenya mas janang
Prangg RN : Nunik tuh siapanya Mas Janang..?
Prangg RN : oh adeknya yah,,,
janang gendut: iya
Prangg RN : Maaf banget yah, ga bisa datang waktu Mas Janang pergi
Prangg RN : Kebetulan aku belum pulang ke Indonesia.
janang gendut: iya ga pa"
janang gendut: mank skrng dmana
Prangg RN : Di Jpn... Yokohama.
Prangg RN : Kok Nunik bisa tahu paswordnya...?
dst,,,,
kemudian ngobrol ama adiknya, minta tolong bantuin nulis buku, semacam biografi buat Mas Janang.
Oh,,, aku sempet kaget dibuatnya. Aku pikir Janang OL beneran,,,
Langganan:
Postingan (Atom)