Sabtu, Juni 28

Kenkousindan

Pagi, datang ke perusahaan langsung absen tapi nggak ganti baju. Hari ini ada jadwal kenkousindan atau medical check up. Hem,,, mungkin ini yang terakhir aku jalani karena sebentar lagi juga pulang. Apapun hasilnya tentu nggak ngaruh buatku, asal nggak ada penyakit berat aja. Tapi kalau ada penyakit berat tentu ada keluhan sebelumnya, jadi medical check up kali ini sebenarnya cuman formalitas aja, mengikuti aturan undang-undang perburuhan Jepang yang mewajibkan pemeriksaan kesehatan setiap tahun pada semua karyawannya.

Jumat, Juni 27

datang

Barang besar datang. Berupa material, plat lebar yang udah dipotong sesuai ukuran dan ditekuk sesuai bentuk. Tentu saja nggak dipotong di tempatku, karena barangnya terlalu besar, dan mesin-mesin potong tempatku hanya bisa motong plat ukuran dua kali empat meter aja. Lebih dari itu biasanya pesen sama perusahaan lain, atau plat nya disambung lagi pake las. Tapi tentu butuh tenaga,,, mending pesen aja deh,,,

Dan tadi siang mulai ngerjain barang tersebut,,, susah juga sih soalnya scrane di tempatku tak lebih dari lima meter tingginya,,, jadi susah. Tempat kerjaku juga jadi kelihatan sempit,,, jalanan buat orang lewat ke toilet terpaksa deh keganggu. Mungkin sekitar sepuluh hari tuh barang bisa kelar,,,,

Rabu, Juni 25

Yakiniku

Hari-hari belakangan ini pekerjaan semakin banyak. Bukan pekerjaan yang kecil dan ringan, tapi yang aku kerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar, berat dan butuh waktu. Butuh juga energi untuk berfikir karena barang yang aku buat semakin rumit dan Tamon Sang mempercayakanku untuk berfikir sendiri. Membaca gambar kerja, membuat barang dengan hitungan-hitungan yang lumayan.

Masalah utama karena barang "mini" udah nggak dipesan di tempat kerjaku jadi aku mengerjakan barang-barang baru yang lumayan. Bulan ini ada pesanan Cover Mesin, panjang sekitar lima meter, tinggi tiga meter lebar empat meter. Sudah kebayang deh bikin rangkanya, platnya, ngelasnya, nggerindanya, belum ngebolak-balikin barang saat membuatnya.

Tapi gimana lagi, pekerja yang lain nggak sanggup nerima pekerjaan tersebut maklum kakek-kakek semua,,, mau ga mau deh,,,

Mungkin karena kasihan, Sacho ngajakin makan tadi siang. Aku, Tamon, Tri sama Wahyu makan Yakiniku di Restourant Korea. Ha,,ha,,ha,,, tentu dengan sebuah pesan jangan bilang-bilang pekerja yang lain, sebab ntar ngiri.

Abis makan Sacho sama Tamon ngajakin ke snack. Sebenernya aku menolak karena aku kan ga minum, tapi mereka memaksa. Rasanya kurang lengkap kalau satu orang pulang yang lain minum-minum. "OK deh,,, tapi aku nggak minum " kataku.

Sampai di Snack (Klub) seperti biasa disambut perempuan-perempuan berdandanan seksi dan genit dengan minuman keras dan rokok. Dan seperti biasa pula, aku hanya minum air putih dingin sambil karaoke. Saat tangan Sacho dan yang lain nakal hinggap di paha dan dada, aku cuma menertawakan diriku sambil mengejek diriku sendiri :
"Cemen banget kalau gue sampai tergoda mereka..."
"Jangan ngomongin moral deh lo kalau sampai lupa diri..."

Yang aku ingat dalam suasana seperti itu adalah ucapan Emha Ainun Najib : Pandang mereka sebagai manusia, maka yang akan kita gunakan adalah naluri keMANUSIAan kita. Jangan pandang mereka sebagai wanita sebab yang akan kita gunakan nanti adalah naluri keLELAKIan kita sedangkan keLELAKIan kita hanya pantas diberikan pada orang yang tepat.




Kawasaki, 25Juni2008

Ha,,ha,,ha,,, ternyata tips dari Cak Nun efektif juga buatku.

Senin, Juni 16

erroRRR

Iya,,, ada luka-luka pada setiap sayatan pisau
Menyimpan luka menyimapan kata
kata-kata kemungkin membuati luka
disayat-sayat ttaepian senja
Kelumudian bunuga-bungah meskar dissuungai damararah
Membabi butua babeei siyiapa yankg buoota
Mengkambing hitamkan kambing-kambing yang tak hitam
Setan iblis berselimut jubah malaikat
Roh yang tersesat karna tak punya peta dan kompas
K An 3#7 as*7e K2#5%n Filamn b3 e ajb amhamhs 278hanyohay
auhqi8000
Kemudian bangaha ajdsbus amhdy
sesampainyas asn

banggah sotanga sasampainya di parantaaaaaaauan
adink bagandakan
bulan baganti taun
tianda disangkan
adink bagandakan,,,,
Kamanri bungah dityangan
mandi kambangan bunjink
2@n auny smayp ponoh ganima sal kaomdeli

Kamis, Juni 12

Ngarang,,,

Siang sekitar pukul dua sore, dua orang staf dari IMM Japan datang menemui kami. Ngobrol-ngobrol sebentar dan basa-basi, kemudin mereka sampaikan maksud kedatangannya kali ini, menanyakan apakah kami ada minat untuk bekerja di perusahaan Jepang sepulang ke Indonesia nanti...?

Karena memang belum tahu keadaan Indonesia saat ini tentu aku jawab iya. Minimal bisa buat batu pijakan, semoga nggak licin dan terpeleset. Mereka kemudian meminta kami untuk mempersiapkan karangan, sertifikat bahasa Jepang, sertifikat yang lain dan beberapa contoh gambar kerja yang biasa kami buat. Rencananya oleh IMM Japan kami akan diajukan untuk wawancara di Jepang ( bukan di Indonesia ) tentu atas permintaan dari perusahaan yang akan kami tempati nanti.

Kenapa harus karangan...? Memang begitulah kebiasaan orang Jepang dalam menerima karyawan sebelum wawancara. Mereka ingin mengetahui kemampuan calon pekerjanya, cara berfikirnya, kemampuan bahasa dan semuanya, lewat tulisan atau karangan. Bukan dengan surat lamaran formal seperti kebiasaan di Indonesia.

Pihak perusahaanku tentu mendukungnya. Biasanya, perusahaan yang akan menerima calon karyawan mantan trainer mewawancarai kenshusei ketika pulang di Cevest Bekasi. Tapi tentu saat itu berkumpul beberapa perusahaan dan para trainer yang berkualitas jadi rebutan oleh perusahaan, sebab para trainer juga mendapat kesempatan untuk wawancara dengan beberapa perusahaan sekaligus di Cevest Bekasi. Kalau ketrima semua...? ya terserah si trainer akan memilih untuk bekerja di perusahaan mana,,,

Kalau nggak ketrima semua,,, ya nunggu bulan depan saat ada wawancara lagi,,, lagi,,,lagi,,, sampai ada perusahaan yang kasihan dan menerima ha,,ha,,ha,,,,,

Tapi beberapa perusahaan sengaja mewawancarai dan mencari calon karyawan sebelum pulang ke Indonesia. Dan ternyata aku menjadi salah satu orang yang beruntung diajukan untuk ikut wawancara sebelum pulang. Semoga tak mengecewakan IMM Japan dan perusahaan nanti.

Mudah-mudahan juga bisa diterima sebab tentunya perusahaan tersebut lumayan bonafid karena mau repot-repot mencuri start dengan membooking calon pekerjanya. Tapi saat ini tentu tugasku adalah mengarang,,,, tentu dalam bahasa Jepang.

Jumat, Juni 6

Pijakan,,,

Tempat ini benarkah sebuah "tanah maya" yang memang seharusnya kupijak...?

Di YM aku males menunjukkan status OL ku karena ada aja orang-orang sok akrab yang ngajakin ngobrol ga jelas. Sok akrab padahal ketemu aja belon pernah,,, AKU JUGA BUTUH PRIVACY ,,,,

padahal selama ini yang aku samperin kalau OL cuman Rona, Titis dan beberapa teman komikus. Kadang juga temen kensyu sekedar tanya kabar,,,,

Beberapa orang nge Add id YMku karena tulisanku di blog,,, ngajak kenalan katanya pengen share,,, tapi rupanya bloger memang kadar narsisnya melebihi ambang batas. Mereka merasa dirinya dan semua kisah hidupnya penting,,, mereka pengen blognya rame dengan komentar tamu,, merasa bangga dengan banyaknya contacs, tapi menganggap sang contacs sebatas penggemar. Tak ada respek pada sang contacs,,, padahal aku sendiri yang pertama kali aku lakukan saat OL di MP adalah mengunjungi contacs.


Ha,,ha,,ha,,,, dan aku merasa bebas ngomong di sini karena blogspotku ini memang khusus buat unek-unek. Aku tak butuh komentar basa-basi dari siapapun,, yang kemudian membuatku merasa terbebani untuk membalas ngomentari blog sang tamu padahal sungguh sering kali aku bingung untuk ngomentarin blog orang karena ga ada yang menarik bagiku. Tapi kalau ga ninggalin pesen mereka datang dan nulis " Kok ga ninggalin pesan...?" Halah,,, ga penting banget deh,,, dan rumah ini aku merasakan indahnya sepi. Indahnya nulis apapun tanpa harus terbebani. Nulis langsung tanpa harus di edit, tanpa menyiapkan energi untuk adu argument,,,

Ini aku sadari setelah ngobrol dengan seorang pengusaha Indonesia yang datang ke Tokyo beberapa waktu yang lalu. Bahwa 80% dari teman kamu adalah orang yang tidak respek terhadapmu. Dia tambahkan, dari 100 nama dan nomor telfon dalam HPmu, 80% adalah orang yang tak pernah kamu hubungi, cuma menuh-menuhin memory aja. Hanya 20% saja biasanya yang benar-benar sering berhubungan. Sisanya penggembira. Menuhin tempat, pangkas saja.

Pohon akan tumbuh bagus kalau ranting yang tak bermanfaat dipangkas. Begitu juga orang-orang disekitarmu, yang nggak bermanfaat, nggak efisien, ngerepotin mulu kerjaannya, pangkas saja.

Contacs di YM, Multiply, Friendster yang ga respek hapus saja. Dengan begitu, kita hanya akan bergaul dengan orang-orang yang benar dan memberi manfaat bagi kita. Apa manfaatnya...? Tentu setiap orang lebih tahu apa yang memberi manfaat bagi dirinya sendiri,,,

Selasa, Juni 3

Pulang dia akhirnya,,,

Pagi-pagi aku dikagetkan dengan kedatangan empat orang tamu. Semuanya rapi, dengan jas dan tentu dasinya. Gugup, langsung terbangun dan ngebenerin futong (kasur tidur khas Jepang) dan menerima mereka tanpa sempat cuci muka atau sekedar ke toilet. Masih memakai kaos singlet kami duduk berhadapan.

Mereka tiga orang staf J-WEC dan seorang staf IMM Japan. Mereka mengatakan sengaja datang pagi ini karena ada masalah yang harus diselesaikan. Tanpa banyak basa basi langsung berbicara ke pokok masalah, bahwa hari ini selasa tanggal 3 Juni 2008 Adi harus pulang ke Indonesia karena berdasarkan efaluasi selama ini dia dianggap tidak mampu dan tidak akan mampu melanjutkan program ini selama tiga tahun.

Tiket kepulangan telah dipesan, dengan pesawat keberangkatan jam tujuh dua puluh menit dari bandara Internasional Narita - Japan tujuan Jakarta yang transit di Singapore.

Sebenarnya aku sendiri sudah mengetahui bahwa Adi akan dipulangkan juga walau tak mengira mereka akan menjemputnya di Apartement, justru saat Adi sedang menyiapkan bento (bekal makan siang).

Kepulangan dia bukan sebuah proses yang singkat. Telah diberikan kesempatan kepadanya hingga berkali-kali untuk memperbaiki diri namun sampai bulan 5 tak ada perubahan yang berarti. Jika aku tuliskan tentang Adi mungkin blog pribadi ini hanya akan penuh dengan masalah bersama dia, namun aku berusaha untuk tidak menuliskannya lagi dan semoga ini tulisan tentangnya yang terakhir kali. Sebab aku tak ingin menuliskan keburukan atau kekurangan orang lain setiap hari, itu alasanku menghentikan tulisan tentangnya walau sebenarnya selama ini masalah dengannya banyak terjadi.

Hingga hari ini, dia sendiri mengetahui keputusan yang disampaikan kepadanya langsung. Dia tak perlu lagi bekerja seperti biasa, tapi justru secara mendadak menyiapkan barang-barang yang harus dibawanya pulang ke Indonesia. Termasuk menutup rekening tabungan di Bank, datang pamitan ke perusahaan dan urusan tetek bengek lainnya. Tentu dengan pengawalan ketat orang J-WEC dan IMM Japan.

Dalam keadaan seperti ini, menangis baginya tentu hal yang lumrah. Saat diberikan kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan pesan terakhir kepadanya tentu aku berusaha sedapat mungkin membesarkan hatinya, menyemangatinya untuk terus menjalani hidup dengan semangat di Indonesia walau aku tahu perasaan di hatinya tentu sangat sakit, sedih, malu, kecewa bahkan mungkin putus asa.

Baiklah, aku tak ingin mengenang keburukannya. Seperti jawabanku kepada Staf J-WEC aku katakan Adi bukan orang jahat. Bukan orang yang egois, juga bukan orang yang curang. Sungguh aku katakan bahwa dia melakukan semua itu bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaktahuan. Yah, kemampuan nalar dia terlalu rendah bila melihat pendidikan dia sebagai seorang sarjana. Aku bahkan menganggapnya sebagai anak SD dan tentu siapapun tak akan marah bila menghadapi tingkah laku seorang anak. Aku memakluminya. Yang patut disalahkan justru orang tua yang memaksakan dia berangkat dengan menempuh segala cara padahal tentunya kemampuan anak mereka tahu betul. J-WEC sendiri saat ini belum memiliki staf di Indonesia, tentu perekrutan diserahkan kepada orang depnakertrans dan seperti kita tahu bagaimana sifat lembaga di Indonesia.

Persoalannya program ini bukan yayasan sosial. Perusahaan adalah lembaga yang mencari keuntungan. Dan jujur kukatakan sampai tiga tahunpun aku yakin dia tidak akan bisa menjalani jenis kerja ini. Terlalu riskan kecelakaan dan perusahaan juga tak mau mengambil resiko itu. Menurutku pulang ke Indonesia memang jalan keluar terbaik.

Tak dapat kubayangkan perasaan Adi. Diluar hujan turun seharian. Di laut sebelah selatan Tokyo sedang ada badai yang bergerak mendekat dari selatan ke utara, membawa buti-butir hujan pagi ini. Kami berpelukan. Saling bermaafan dan dia mengucap "Mas,, sayounara ya,,,"
Dan airmatanya terus turun, seperti hujan di luar sana.

Minggu, Juni 1

Kangen Mancing

Hari ini libur. Biasanya hari minggu aku tetep masuk, tapi karena kaki Tamon San sakit beberapa minggu ini kami nggak masuk lembur kecuali hari sabtu.

Jam dua sore ke Kawasaki Keiba (pacuan kuda) siapa tahu ada free market , yaitu orang jualan barang secara lesehan seperti tiap minggu di Gor Bekasi atau alun-alun Tegal. Barang yang dijual rata-rata second walau banyak yang belon pernah dipakai. Maklum mereka jualan juga pake mobil, dan bukan untuk mencari uang. Mungkin hoby aja kali yah,,, banyak yang menjual pakaian atau barang milik sendiri padahal belum pernah dipakai atau dipakai sekali trus jadi penghuni gudang. Karena buat membuang barang harus bayar, tentu menjualnya lebih asyik kayaknya. Tapi entahlah, aku sendiri tak tahu alasan mereka yang sebenarnya, tapi yang pasti bukan sebagai pekerjaan tetap. Mereka, para pedagang di freemarket jepang sudah mapan secara ekonomi menurutku.

Yah,,, namanya manusia, hobynya memang aneh-aneh.

Tapi rupanya hari ini ga ada jadwal freemarket di Kawasaki Keiba, mungkin di Stadion Yokohama Marinos tempat dulu dipakai untuk piala dunia sepak bola (disana ada telapak tangannya Oliver Khan kipper Jerman dan telapak kakinya Ronaldo dari Brazil).

Langsung cabut deh ke BookOff, sebuah toko barang second juga. lho kok maennya ke toko second semua yah..? Maklumlah kantong trainer, tapi yang jelas barang second disini bukan barang rusak dan ada garansinya. Harganya juga lumayan,,,

Sebelum ke BookOff dari Kawasaki keiba tentu melewati sebuah kompleks pelacuran. Eh ternyata siang-siang gini tuh perempuan udah pada berbikini dibalik kaca, senyum-senyum menunggu pembeli sementara banyak anak-anak kecil dengan ibunya (penduduk sekitar) cuek aja berjalan melewatinya.

Sampai di BookOff kubeli satu benda yang memang kucari, Joran pancing. Kemudian kerinduan pada Waduk Cacaban seperti dengungan nyamuk dimalam hari, sangat dekat namun tak tersentuh.

Sejak kecil Waduk Cacaban adalah sebuah tempat favoriteku untuk memancing. Dan aku menjadi saksi hidup betapa Waduk itu terus berubah, dan aku akan terus memancing disana sampai tua nanti meninggalkan sejenak hiruk pikuk peradaban.

Memancing bagiku sebuah ritual yang menyenangkan, dan bukan sebagai ajang lomba atau sebagainya, yang malah membuat memancing menjadi tidak lagi asyik menurutku.

Aku ingin menggelar tikar, mendirikan sebuah tenda kecil dan memancing di tepi waduk itu. Sendiri lebih baik,,, berdua tak masalah,,, bertiga apa boleh buat,,,, berempat pikir-pikir,,,, berlima atau lebih akan kutolak.