Aku belum lama mengenalnya. Hanya beberapa waktu yang lalu, karena sesama komikus.
Itu pun hanya lewat YM, chating dan ngobrol tentang komik. Ia mengaku orang baru juga di dunia komik, dan berjanji mengenalkanku pada komikus dan komunitas komik di Indonesia. "Tapi yang pertama akan saya perkenalkan sama Mas Prangg adalah.... diri saya sendiri ha,,ha,,ha,,,,,," tulisnya saat itu.
Kemudian makin akrab. Banyak bertanya aku padanya tentang dunia komik Indonesia dan lika-liku berkomik di jalur indie. Tentang banyak hal. Juga tentang hidup, filsafat dan sebagainya. Orang yang ceria, ramah dan nggak sombong atau terkesan angkuh seperti beberapa komikus lain yang kukenal.
Ia menyarankanku untuk membaca understanding comics karangan Scott Mc Cloud, juga buku Seno Gumira Ajidarma yang menggambarkan tentang kehidupan Jakarta dan segala tetekbengeknya. Kemudian dia berjaji untuk mencarikanku buku "Understanding Comics" tersebut.
Beberapa hari setelah itu, ketika OnLine dia menyapaku. Dikatakannya bahwa dia sudah mencari kesemua toko buku yang diketahuinya namun buku yang dicarinya tak ada, dan harapan terakhirnya pada gudang Gramedia. Tapi ia katakan menemukan buku barunya Scott Mc Cloud yang ternyata udah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia padahal fersi Inggrisnya aja baru nongol.
Aku tertarik. Judulnya "Making Comics" dan dia bersedia membelikannya dan mengirimkannya ke Jepang. Aku pun berjanji untuk mengirimkan alat-alat ngomik yang kurasa sulit ditemukan di Indonesia.
Aku menunggu buku kirimannya dan tentu ia juga menunggu alat-alat kirimanku. Tapi yang kuterima pesan dari Rona : Mas Prangg,,,, Mas Janang meninggal dunia.
Inna lillahi wa inna illaihi rajiuun,,,,,,,,,,,,
Selamat jalan Janang,,, selamat jalan SAPTO DENASWANTO,,,
Tak banyak aku memiliki "teman". Tak banyak orang yang begitu kenal langsung akrab dan nyambung ngobrol denganku. Perkenalan kita tak sampai seumur jagung, tapi aku begitu kehilanganmu,,,,
Jumat, Maret 28
Sabtu, Maret 15
@moe
Ah,,, aku tak tahu harus menulis apa
biarlah sementara ini setiap kata berputar dan berdengung dalam kepalaku untuk kemudian kumuntahkan lewat ribuan sumpah serapah
Aku akan tetap pada komitmentku
Aku ingin tetap pada idealismeku
Menjadi pecundang atau pemenang tak perlu ditakutkan lagi
biarlah sementara ini setiap kata berputar dan berdengung dalam kepalaku untuk kemudian kumuntahkan lewat ribuan sumpah serapah
Aku akan tetap pada komitmentku
Aku ingin tetap pada idealismeku
Menjadi pecundang atau pemenang tak perlu ditakutkan lagi
Jumat, Maret 14
diiiiii,,,,,,di,,,,
Cerita tentang Adi kayaknya nggak akan berhenti. Aku kira dengan berjalannya waktu dia akan bisa beradaptasi dengan lingkungan saat ini, tapi ternyata semuanya tak berubah.
Sakit gigi, kemudian suatu sore saat naik sepeda dan berhenti disebuah persimpangan terjatuh tanpa sebab, tanpa angin dan nggak mau bangun cukup lama... walah,,, adikku Ais saja jatuh bangun dari sepeda lho Di,,, dan masih banyak lagi. Kalau tabrakan dan jatuh tentu wajar, nah ini sedang berhenti,,, jatuh dan nggak bisa kerja hampir seminggu alasannya kaki sakit... tapi begitu dibawa ke dokter ga papa,,,,
Tentu saja orang asuransi juga bingung bikin laporannya,,,, Orang J-WEC (institusi pengirim) marah-marah di apartement, dan orang perusahaan cuman angkat bahu. Jangankan urusan kerja, masalah mandi aja aku capek ngomonginnya. Habis mandi pake handuk, sendalnya pake biar kaki nggak kotor, nyuci bajunya begini, kalo berangkat kerja begini,,,,masih saja susah bukan kepalang. Apa nggak aneh kalo hari senin berangkat kerja lupa nggak bawa seragam...? Lupa bawa pasport saat mau ngurus KTP, lupa ini,,,, lupa itu,,,,, apalagi masalah kerja, tentu saja Wahyu stress dibuatnya. Cape deeeeh,,,,
Banyak masalah yang sebenarnya nggak perlu terjadi. Dan orang perusahaan sudah nyerah kayaknya. Semua meminta agar Adi dipulangkan saja ke Indonesia, termasuk Tamon San, orang yang paling sering ngebelain aku.
Aku sendiri bingung. Belum pernah menemukan seorang yang seperti ini lolos jadi kenshusei,,,
Mungkin di Indonesia ia punya backing yang kuat, tapi tentu saja disini nggak berlaku.
Sakit gigi, kemudian suatu sore saat naik sepeda dan berhenti disebuah persimpangan terjatuh tanpa sebab, tanpa angin dan nggak mau bangun cukup lama... walah,,, adikku Ais saja jatuh bangun dari sepeda lho Di,,, dan masih banyak lagi. Kalau tabrakan dan jatuh tentu wajar, nah ini sedang berhenti,,, jatuh dan nggak bisa kerja hampir seminggu alasannya kaki sakit... tapi begitu dibawa ke dokter ga papa,,,,
Tentu saja orang asuransi juga bingung bikin laporannya,,,, Orang J-WEC (institusi pengirim) marah-marah di apartement, dan orang perusahaan cuman angkat bahu. Jangankan urusan kerja, masalah mandi aja aku capek ngomonginnya. Habis mandi pake handuk, sendalnya pake biar kaki nggak kotor, nyuci bajunya begini, kalo berangkat kerja begini,,,,masih saja susah bukan kepalang. Apa nggak aneh kalo hari senin berangkat kerja lupa nggak bawa seragam...? Lupa bawa pasport saat mau ngurus KTP, lupa ini,,,, lupa itu,,,,, apalagi masalah kerja, tentu saja Wahyu stress dibuatnya. Cape deeeeh,,,,
Banyak masalah yang sebenarnya nggak perlu terjadi. Dan orang perusahaan sudah nyerah kayaknya. Semua meminta agar Adi dipulangkan saja ke Indonesia, termasuk Tamon San, orang yang paling sering ngebelain aku.
Aku sendiri bingung. Belum pernah menemukan seorang yang seperti ini lolos jadi kenshusei,,,
Mungkin di Indonesia ia punya backing yang kuat, tapi tentu saja disini nggak berlaku.
Selasa, Maret 11
Dasar kuthu kupret, sontoloyo, belegug,,,,
Sejak dulu, untuk menghabiskan waktu luang aku membaca. Membaca apa saja, dari majalah, buku, koran atau komik. Dari yang ringan sampai yang berat, dari kursi sampai tempat tidur,,,
Dan kebiasaanku ternyata terus berlanjut, pun ketika aku tinggal di Bekasi. Tak ada TV, Radio,,, aku tak pernah kesepian kalau ada bacaan. Maka salah satu tempat favoriteku ya toko buku baik Gramedia, Gunung Agung, Multimedia atau pedagang buku bekas,,,,
Di Jepang ternyata tempat yang menjual buku dan alat tulis terus menjadi perhatianku, walau nggak bisa baca huruf kanji yang jumlahnya ribuan,,,, tapi kanji yang gampang dan hiragana katakana sih lumayan ngerti.
Pulang kerja, pengen jalan. Tentu sendirian karena teman satu apartement berbeda hoby dan kebiasaan. Mana betah dia nongktong di toko buku...?
Dan toko buku yang menjadi tujuanku saat ini adalah Yuzawaya di daerah Kamata - Tokyo. Eh bukan toko buku ding,,, tapi toko alat tulis dan kesenian. Dari mulai kain, benang, kanvas, cat minyak, alat lukis, alat ngomik dan beberapa buku petunjuk teknik ngomik ada. Pokoknya lengkap, top markotop deh...
Kebetulan peralatan ngomik ada di ujung toko di lantai dua, alat lukis dan kesenian lainya ada di lantai atas baik lantai 3 maupun lantai 4. Baca buku teknik ngomik sendirian, lihat-lihat alat ngomik dan berbagai macam pernik-perniknya... Asyik bener euy,,, musiknya juga enak didenger,,,, hem,,,
Tapi kemudian musik berhenti. Aku cuek. Terus membaca, melihat-lihat dan mencoba beberapa alat untuk ngomik. Tapi tiba-tiba suara AC juga terhenti. Hem,,,, aku cuek aja, mungkin suhu sudah terlalu hangat jadi wajar kalau pemanas ruangan dimatikan.
Nah yang bikin aku jengkel, ternyata fasilitas lampu yang menerangiku untuk membaca ikut padam. Whaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, sialaaaaaaaaaaaaaaaaan..! Lihat kiri kanan, ternyata tak ada seorang pun manusia di lantai dua ini,,,, dan aku baru sadar TOKO TELAH TUTUP.
Lari kebawah pintu roolingdoor telah ditutup. Untung ada beberapa karyawan yang lagi berbenah ngitungin duit,,,,, jadi aku bisa keluar deh,,,,, tapi untuk nutupin rasa malu, aku ambil sebuah CD berisi gambar-gambar komik dan membayarnya. Abis itu ngacir deh sambil ngumpat dalam hati,,,,
Dan kebiasaanku ternyata terus berlanjut, pun ketika aku tinggal di Bekasi. Tak ada TV, Radio,,, aku tak pernah kesepian kalau ada bacaan. Maka salah satu tempat favoriteku ya toko buku baik Gramedia, Gunung Agung, Multimedia atau pedagang buku bekas,,,,
Di Jepang ternyata tempat yang menjual buku dan alat tulis terus menjadi perhatianku, walau nggak bisa baca huruf kanji yang jumlahnya ribuan,,,, tapi kanji yang gampang dan hiragana katakana sih lumayan ngerti.
Pulang kerja, pengen jalan. Tentu sendirian karena teman satu apartement berbeda hoby dan kebiasaan. Mana betah dia nongktong di toko buku...?
Dan toko buku yang menjadi tujuanku saat ini adalah Yuzawaya di daerah Kamata - Tokyo. Eh bukan toko buku ding,,, tapi toko alat tulis dan kesenian. Dari mulai kain, benang, kanvas, cat minyak, alat lukis, alat ngomik dan beberapa buku petunjuk teknik ngomik ada. Pokoknya lengkap, top markotop deh...
Kebetulan peralatan ngomik ada di ujung toko di lantai dua, alat lukis dan kesenian lainya ada di lantai atas baik lantai 3 maupun lantai 4. Baca buku teknik ngomik sendirian, lihat-lihat alat ngomik dan berbagai macam pernik-perniknya... Asyik bener euy,,, musiknya juga enak didenger,,,, hem,,,
Tapi kemudian musik berhenti. Aku cuek. Terus membaca, melihat-lihat dan mencoba beberapa alat untuk ngomik. Tapi tiba-tiba suara AC juga terhenti. Hem,,,, aku cuek aja, mungkin suhu sudah terlalu hangat jadi wajar kalau pemanas ruangan dimatikan.
Nah yang bikin aku jengkel, ternyata fasilitas lampu yang menerangiku untuk membaca ikut padam. Whaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, sialaaaaaaaaaaaaaaaaan..! Lihat kiri kanan, ternyata tak ada seorang pun manusia di lantai dua ini,,,, dan aku baru sadar TOKO TELAH TUTUP.
Lari kebawah pintu roolingdoor telah ditutup. Untung ada beberapa karyawan yang lagi berbenah ngitungin duit,,,,, jadi aku bisa keluar deh,,,,, tapi untuk nutupin rasa malu, aku ambil sebuah CD berisi gambar-gambar komik dan membayarnya. Abis itu ngacir deh sambil ngumpat dalam hati,,,,
Langganan:
Postingan (Atom)