Jumat, Oktober 17

Ratu

Wah lama juga ga nulis blogspot,, sejak internet diputus dan sekarang udah sambung lagi, ganti pake nama juniorku.

Akhir-akhir ini aku asyik nonton sinetron RCTI, Ratu. Sinetronnya sih udah lama, kayaknya udah setahunan kali, tapi baru aku tonton. Wah tumben-tumbenan, sebenernya cuman iseng. Tapi rupanya ceritanya asyik dan yang maen juga keren Nabila Shakieb sama Cristian Sugiono.

Mungkin ini sinetron Indonesia pertama yang aku lihat sampai tamat. Emang ada beberapa bagian yang nggak diupload,, tapi ga papa deh.

Cerita tentang cowok SMU yang ketemu sama cewek SMP dan jalan seharian, tapi belon sempat kenalan. Ceritanya asyik, romantis, sedih juga sih.

Yang aku suka dari sinetron ini adalah Ratu dan Rama ( Baja ) yang saling mencintai, saling memberikan perhatian dan SETIA.

Ha,,ha,,ha,,,, sejak SD aku ingin punya cewek yang baik, perhatian dan setia tapi kayaknya susah banget. Cewek yang aku suka biasanya cuek sama aku. Kelas 1 SMP ada juga cewek yang katanya suka sama aku, kelas dua, juga kelas tiga. Tapi mereka bukannya memberikan perhatian padaku, berkorban untukku, justru sebaliknya mereka minta diperhatikan, minta aku berkorban untuk mereka. Aku paling benci orang yang minta tapi nggak mau memberi.

SMU, ada beberapa cewek juga yang kelihatan caper sama aku. Mulyani selalu bikin puisi untukku, pernah minta aku jemput dia saat berangkat sekolah padahal rumahnya kan di Tarub ke utara jauh banget,,, sedang aku deket sekolahku. OK lah,,, aku sekali jemput dia pagi-pagi karena suatu hal, dan dia kasih aku kembang mawar. Berhubung ribet, kembangnya aku buang dijalan,,, aku ga tahu deh perasaan dia saat itu.

Essy yang katanya suka sama aku juga sampai detik ini nggak tahu hobiku, bahkan tanggal lahirku pun nggak tahu. Hah cinta macam apa..? Dia justru menanyakannya saat aku udah di Bekasi dan aku jawab " Kenapa lo baru nanya sekarang...?"

Nining, Fenty, Uthay, Heni, Emil, dan beberapa orang perempuan yang bilang suka sama aku tak pernah aku tanggepin karena mereka hanya mau diperhatikan, hanya mau disayangi dan bukan sebaliknya.

Ada juga perempuan cantik yang mau datang ke kontrakannku, masakin makanan, bawain sesuatu, bahkan mau ngupasin mangga, kacang, dan buah-buahan lain untukku tapi aku nggak bisa deket sama dia. Sebab dia melakukan itu pada semua cowok.

Sampai aku kemudian suka sama Rona dan saat itu aku yakin Rona tak menyukaiku. Saat ke Pangandaran aku belikan sesuatu buat Rona, Euis, Alting dan beberapa orang cewek baik anak rubber maupun kapasitor. Hanya dua orang yang mau memakai barang pemberianku, Euis dan satu anak tol barat yang kuberi jepet rambut. Kalung manik-manik yang aku berikan sama Rona sama sekali nggak disentuh.

Rona justru kelihatan banget berusaha menghindari aku. Tapi aku terlanjur suka. Aku pengen deket sama dia, tapi tiap aku deketin dia malah pergi. Kalau ama cowok lain dia bisa bercanda, tapi kalau ada aku dia manyun. Sebenernya aku sangat lelah.

Aku pengen ngindari dia aja, sama temen tengah malem pergi ke Bogor, naik kehutan deket air terjun, ngelewati sawah dan pemukiman penduduk, digonggong anjing cuma pengen bisa tenang nggak mikirin Rona. Iwan bilang tempatnya asik, sepi dan enak buat ngilangin stress. Tapi pagi-pagi aku udah keingetan sama Rona lagi, duduk di tepi air terjun dan berkhayal seandainya saat itu Rona ada disana tentu lebih asik.

Sama Iwan juga aku naik ke Guci, dibukit teriak-teriak kayak orang gila sementara Iwan maen gitar sambil nertawain aku. Aku bingung kudu bagaimana.

Kalau aku terus kejar Rona tentu dia akan terganggu. Yang aku takutkan Rona suka sama cowok lain dan kalau aku terus nguber, cowok yang Rona suka akan mundur.

Kenyataannya saat aku tanya Rona memang menolakku. Kesimpulannya Rona tak menyukaiku. Cowok lain masih beruntung bisa jalan sama Rona karena dibantu orang lain. Tidak denganku, ngajak Rona jalan aja susahnya nggak ketulungan. Dan aku berusaha sendiri. Mencari rumahnya sendiri, udah pamitan dan minta doain sama temen-temen di kontrakkan aku malah nggak boleh datang. Terpaksa pulang lagi dan jadi bahan tertawaan anak-anak. Padahal saat itu Yasin sama ceweknya, Iwan sama Zakiah, Turna sama Mamay, Iin sama cowoknya dan aku yang pamitan mau maen kerumah Rona balik lagi ngumpul sama mereka.

Aku pengen berhenti ngejar Rona. Itulah sebabnya aku seperti mau nggak mau sama dia. Aku menyukainya, dia membenciku. Semakin aku dekatin aku takut dia semakin merasa terganggu. Aku lebih banyak nongkrong sama temen, maen ke galery lukisan, sering jalan ke pasar seni ancol dan saat itulah aku kenalan sama Pak Tri, seorang pelukis di Ancol yang rumahnya di Bogor. Aku banyak curhat sama dia.

Dan sampai saat itu juga aku nggak lihat sedikitpun Rona mau sama aku. SUDAHLAH,,,, AKU PERGI,,,, kata Padi lewat lagunya. Pelan tapi pasti aku harus melupakan Rona. Aku mulai membuat lamaran kerja ke beberapa perusahaan dengan modal transkrip nilai,,, beberapa kali wawancara tapi nggak ketrima.

Aku harus pindah dari Chemi-Con biar bisa lupa sama Rona. Seandainya saat itu aku dapet kerjaan tentu aku langsung keluar dan nggak akan deketin Rona lagi. Tapi ndapetin kerjaan sama susahnya dengan ndapetin Rona. Aku masih maen ke rumah Rona tapi sungguh aku udah nggak berharap lagi.

Sampai aku pindah kontrakan dan iseng aku telfon Rona ngajak maen ke kontrakan baruku di Kranji. Dulunya sih aku sangat berharap bisa maen berdua keluar sama Rona tapi nggak pernah mau. Siapa sangka saat aku udah mau mundur Rona malah mau aku ajak maen...?

Dan tanggal 3 Maret 2001, saat puasa sunah idul adha aku pamit mau ngajak Rona keluar. Rupanya Rona belon ngomong sama Bapaknya. Jadilah ada sidang dadakan dengan hakim Bapak Surono dibantu Istrinya, Rona sebagai korban dan aku duduk di kursi terdakwa. Anak-anak tetangga pada ngintipin dari balik pintu,,,,

Saat itu Rona mau nerima aku walau saat ditanya cuma diam. Aku nggak tahu apakah perasaannya saat itu sebab perasaanku juga campur aduk. Senang, takut, ngeri, pengen teriak dll.

Awal hubunganku dengannya terasa melelahkan. Entah siapa yang salah. Tapi aku lihat Rona belum sepenuhnya nerima aku. Tiap kali aku deketin dia manyun. Senyumnya sangat mahal. Aku pengen tegor tapi takut dianggap ngekang dan mulai ngatur padahal aku juga orang yang menyukai kebebasan. Sebenarnya aku pengen bersikap profesional dan membedakan hubungan kerja dan hubungan pribadi. Tapi sungguh melelahkan, sebab aku harus terus menahan cemburu begitu juga mungkin dengan Rona. Hanya saja setiap kali aku tanya Rona selalu bilang "Pikir aja sendiri" dan perkataan itu adalah perkataan yang sangat aku benci yang selalu keluar dari bibir Rona.

Aku paling nggak suka disindir atau didiemin. Saat Rona diem aku tanya selalu jawaban yang sama kudapat. Tapi saat aku coba untuk diem belum pernah sekalipun dia tanya kenapa aku diem. Dan saat itu aku pasti yang kalah dan mulai kelabakan. Aku tak akan pernah ngediemin Rona lebih dari 3 hari, sebab lebih dari 3 hari aku akan dosa.

Aku mulai tahu kenapa Rona kadang manyun. Mungkin cemburu sama Euis,,, karena itu aku mulai jaga jarak sama Euis. Pelan-pelan Rona mulai berubah. Tahun kedua dan seterusnya Rona mulai pamit kalau mau pulang kerja, cium tanganku kalau bersalama, bawain makanan buat sarapan pagi dll. Tiap kali ketemu nggak manyun lagi, mau bercanda, dsb. Pelan-pelan aku mulai yakin kalau Rona mulai bisa menerima aku.

Beberapa tahun ini aku 'kehilangan' Rona. Dan itu sangat menyakitkan, jauh dari satu-satunya perempuan yang mau menerima aku, menunggu dan berkorban untukku. Aku ingin jatuh cinta lagi pada orang yang sama setiap hari.

Dan seperti Ratu dan Rama, aku tak ingin ada orang ketiga dalam hati kami. Juga seperti Yoko dan Shio Liong Lee

Tidak ada komentar: