Hari ini internet putus. Sebulan yang lalu udah minta berhenti dan dari perusahaan internet memberitahu bahwa internet masih bisa dipakai sampai 30 September. Tentu tak ada hubungan dengan G30 S PKI yang sekarang mulai dilupakan orang. Sungguh, bangsa Indonesia adalah tipe bangsa yang sangat mudah melupakan jasa pahlawannya tetapi sangat sulit melupakan dendam dan kesalahan pahlawannya.
Lihatlah betapa generasi muda sekarang tak ada yang mengerti tentang kisah pahlawan, bahkan kematian perwira tinggi TNI AD di Lubang Buaya mereka lupakan karena jatuhnya Soeharto. Tak ada lagi bendera setengah tiang tanda duka. Lihatlah Soekarno yang besar jasanya dalam meraih kemerdekaan kemudian dikucilkan saat menjelang kematiannya..? Lihatlah Soeharto yang dicaci maki bahkan sesudah kematian menjemputnya...? Lihatlah betapa Jawa Barat mengharamkan nama Gajah Mada, Hayam Wuruk dan keluarganya menjadi nama jalan seperti juga Jawa Timur mengharamkan Pajajaran,,, semua karena dendam lama dari perang Bubat...?
Masyarakat Indonesia juga masyarakat yang menurutku tidak teguh pendirian. Kagetan, mudah mengikuti arus dalam menentukan kebenaran yang memang tidak hitam putih. Saat Soekarno jatuh semua menghujatnya, Soeharto dianggap dewa. Saat Soeharto lengser dia juga dicaci melebihi kotoran anjing dan masyarakat kembali mendewakan Soekarno. Lihatlah betapa kemudian Pramoedya Ananta Toer dielu-elukan bahkan Goenawan Mohamad menerima dan menulis tentangnya panjang lebar. Aku pribadi lebih memuji sikap Mochtar Loebis yang tetap berdiri di pihak yang berseberangan. Mochtar Loebis juga mengembalikan penghargaan Ramon Magsaysay dari Filipina ketika Pramoedya juga menerimanya.
Aku tahu bagaimana beratnya Mochtar Loebis bersikap. Dia menjadi orang yang bersikap kritis saat pemerintahan Soekarno (seperti juga Soe Hok Gie ), dimusuhi oleh orang-orang Lekra dan PKI yang Pramodya ada didalamnya,, kemudian saat Pramoedya ada dipuncak kejayaan, disanjung dan dielukan layaknya pahlawan oleh seniman-seniman,,, dengan tegas Mochtar Loebis berdiri mengangkang.
Aku tidak mengenal keduanya kecuali lewat karya mereka. Tapi aku sangat menghargai sikap konsisten mereka dalam berkeyakinan. Mochtar Loebis tak banyak dikenal orang awam, namun dia berani mengambil sikap menentang segerombolan seniman yang 'kaget' dengan karya dan pemikiran Pramoedya. Jika harus memilih keberpihakan, aku tak akan berlindung dibawah ketiak mereka. Sebab aku memiliki pendapat dan pemikiran yang berbeda dengan sebagian pemikiran mereka. Aku berdiri di sudut yang berbeda, sebuah sudut sempit dimana hanya ada aku dan diriku.
Untuk malam ini, saat orang bertakbir biarlah aku mengingat 7 orang yang mati di Lubang Buaya sebagai tanda respek dan penghormatanku terhadap perjuangan mereka.
Selasa, September 30
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar