Minggu, Agustus 3

Malam,,,,

Malam,,,

Kenapa kini kau tak pernah datang menemuiku..? Menceritakan tentang kerik jangkrik dan desau daun-daun bambu yang bergerak layaknya bayang Dursasana..? Atau setidaknya memberiku kesunyian, dingin dan sedikit rasa takut agar aku merasakan diriku memang hidup.

Tapi kau diam. Meninggalkanku dengan membawa semua yang pernah kuukir pada setiap larik-larik bayang hitammu. Terus menjauhiku, seakan aku tak lagi berhak memunguti kenangan yang cuma sejumput berbatas usiaku.

Aku tak lagi merasakan kehadiranmu. Malam tak pernah datang menemuiku, sedang aku menunggu datangnya kesunyian yang dulu kau tawarkan. Suara ritmis ketukan hujan dimalam buta, makian dan sumpah serapah, keringat dan lumpur, pergi meninggalkanku seperti angin yang risau kehilangan desau.

Aku masih menunggumu, bukan perginya mentari berganti lampu jalanan dan mercury, tapi malam yang benar-benar malam. Malam yang pernah menjadi sahabatku, yang melindungiku dengan kegelapanmu, yang menakutiku dengan liar imajiku.

Kenapa kau masih saja diam..? Kecewakah kau kepadaku..? Atau malam memang telah mati tertelan roda-roda pedati yang kini kehilangan cemeti..? Aku tunggu kabar darimu, Malam.

Tidak ada komentar: