Jumat, Agustus 1

Lawan..!!!!

Rona telfon dan bilang ada email dari Dian aku suruh balas secepatnya.

Aku buka, ada dua email.
Satu isinya tentang Ais yang katanya sudah bisa ngarang lagu sendiri. Ah yang ini ga usah di bahas.

Satu lagi isinya tentang masalah di keluargaku.
Dian cerita tentang Trio, suaminya Mbak Tri kakak sepupuku.

Dulu Trio suka ngerayu Dian, bla,,,bla,,,bla,,, bla,,,, Tapi Dian tegas ngelawan dan akhirnya memang Trio nggak berani ngerayu lagi.

Itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Beberapa hari yang lalu, Trio mondar-mandir datang ke rumah dan minta uang Rp 500.000,- katanya untuk transfer ke Esti di Semarang. Lho ada hubungan apa Esti sama Trio...? Trio bilang Esti kelaparan hidup di Semarang ga kerja, masalah makan dia yang selalu kirim uang ke Semarang.

Tentu saja bapak ibu kepikiran. Bapakku udah tua, sakit-sakitan lagi. Ibu akhirnya telfon ke Dian, kalau ada uang tolong transfer ke Esti. Dian tanya ada masalah apaan, akhirnya ibu cerita tentang Trio.

Dian ga terima. Marah sama Trio dan terus ndesak Esti tentang hubungan dia dengan Trio. Ternyata memang ada hubungan diantara mereka, dan Dian tentu tahu penyebabnya.

Beberapa waktu yang lalu Esti dan Dian pergi ke seorang kiai untuk minta petunjuk tentang sakit yang diderita Esti. Ternyata Esti kena guna-guna dari Trio. Sakit migran Esti ternyata bukan sakit biasa, dan Dian yang sudah lama curiga sama Trio memang udah lama menyadap SMS dari Trio buat Esti. Esti yang dulu terbuka menurutnya menjadi pendiam, tertutup dan murung sejak beberapa tahun ini, ternyata diguna-gunai oleh Trio. Laki-laki yang deket dan ingin menikahi Esti semuanya mundur tanpa alasan yang jelas secara tiba-tiba.

Aku telfon Ibu tanpa tedeng aling-aling ngomong masalah tersebut. Mula-mula ibu merahasiakannya, mencoba menutupinya, tepi aku tentu nggak bisa dibohongi lagi. Akhirnya cerita juga Bapak dan Ibu.

Aku juga telfon Dian, dia juga cerita.

Aku minta Bapak dan Ibu untuk pergi ke pondok pesantren Suryalaya sama keluarga tentunya baik Esti, Dian maupun Ais sebab Trio adalah orang yang dari dulu suka maen dukun. Kini keluarga mereka memfitnah Esti ngerayu Trio, padahal sebaliknya, bahkan sampai kirim guna-guna segala.

Dian marah dan ngomelin Trio. Gua salut juga ama adikku yang satu ini. Aku pesen sama Dian biar dia selalu cerita kepadaku apapun masalahnya. Aku bukan orang yang suka marah kalau ada orang yang curhat atau minta pendapat. Apalagi terhadap adikku sendiri, sampai detik ini aku belum pernah sepatahpun mengucapkan kata-kata kasar pada mereka.

Aku bilang sama Bapak Ibu, selama ini aku adalah orang yang pendiam. Keluarga lain baik bu De, Mbak Nur, dll. pada ngomongin aku apa aja aku nggak pernah meladeni. Mereka usik aku, aku diam. Tapi tidak untuk kali ini. Aku bilang aku akan melawan. Keluargaku telah diusik, sekuat apapun aku pasti melawan. Pergi kemanapun, sampai berapa turunanpun aku lawan dan semua yang aku ucapkan pasti aku lakukan.

Bapak ga mau rame. Ok, aku bisa nahan diri melihat perkembangan Trio. Jika dia mundur dan ga ngusik keluargaku lagi, masalahnya selesai. Dia aku anggap telah mati dan aku tak akan menginjakkan kakiku ke halaman rumahnya. Tapi jika dia masih bandel, aku obrak abrik sekalian. Bapak takut rame,,, ga enak sama tetangga katanya. Tidak denganku. Silahkan rame, toh yang ancur keluarga dia, Esti masih sendiri, dan kami telah memutuskan untuk hidup pergi dari Purbayasa. Tanganku cuman dua tapi aku masih punya kaki untuk nginjek.

Ibu bilang pantesan Dian & Esti nggak mau hidup di Tegal, karena banyak fitnah dari lingkungan keluarga sendiri, aku bilang bukan cuma Dian Esti, aku juga. Purbayasa, desa yang sesungguhnya sangat menyenangkan. Keluargaku juga keluarga yang sungguh sangat akur, namun menjadi panas seperti neraka karena kedatangan orang lain yang masuk kedalam keluarga besarku.

Suaminya Bulik Janah menipu Om Zeni dengan menjual motornya, sawah dll, sehingga Bulik Janah dan Om Zeni yang dulu sangat akur menjadi musuh dan tak pernah akur hingga detik ini. Istrinya Om Zeni katanya pelit ga ketulungan sehingga Mbah Putri merasa disakiti karena anaknya lebih peduli sama istri dibanding sama Ibunya sendiri. Bude Uriah dan keluarga Mbak Nur entah berapa kali ngejelekin aku, mengungkit masa budi masa lalu kepadaku tak pernah ada habisanya. Saat aku di Bekasi entah berapa kali mereka datang meminta uang kepadaku, pinjam tapi tak pernah kembali, namun didepan orang kampung mereka terus menjelekkan aku.
Kini Trio juga membawa masalah baru di kehidupan keluarga kami. Usahanya Bangrut, tapi tidak dengan syahwatnya.

Purbayasa, desa yang sesungguhnya aku rindukan. Tapi sungguh juga aku benci. Disana aku lahir dan besar, disana pula aku merasa akar kehidupanku mulai tercabut. Tak ingin aku hidup disana, bahkan jika Bapak Ibuku mau, ingin aku membawa mereka pergi dari rumah tersebut.

Aku tahu itu takkan terjadi, Bapak Ibu ingin habiskan masa tua dikampung itu tapi anak-anaknya ingin pergi menghindarinya.

Tidak ada komentar: