Selasa, Juni 3

Pulang dia akhirnya,,,

Pagi-pagi aku dikagetkan dengan kedatangan empat orang tamu. Semuanya rapi, dengan jas dan tentu dasinya. Gugup, langsung terbangun dan ngebenerin futong (kasur tidur khas Jepang) dan menerima mereka tanpa sempat cuci muka atau sekedar ke toilet. Masih memakai kaos singlet kami duduk berhadapan.

Mereka tiga orang staf J-WEC dan seorang staf IMM Japan. Mereka mengatakan sengaja datang pagi ini karena ada masalah yang harus diselesaikan. Tanpa banyak basa basi langsung berbicara ke pokok masalah, bahwa hari ini selasa tanggal 3 Juni 2008 Adi harus pulang ke Indonesia karena berdasarkan efaluasi selama ini dia dianggap tidak mampu dan tidak akan mampu melanjutkan program ini selama tiga tahun.

Tiket kepulangan telah dipesan, dengan pesawat keberangkatan jam tujuh dua puluh menit dari bandara Internasional Narita - Japan tujuan Jakarta yang transit di Singapore.

Sebenarnya aku sendiri sudah mengetahui bahwa Adi akan dipulangkan juga walau tak mengira mereka akan menjemputnya di Apartement, justru saat Adi sedang menyiapkan bento (bekal makan siang).

Kepulangan dia bukan sebuah proses yang singkat. Telah diberikan kesempatan kepadanya hingga berkali-kali untuk memperbaiki diri namun sampai bulan 5 tak ada perubahan yang berarti. Jika aku tuliskan tentang Adi mungkin blog pribadi ini hanya akan penuh dengan masalah bersama dia, namun aku berusaha untuk tidak menuliskannya lagi dan semoga ini tulisan tentangnya yang terakhir kali. Sebab aku tak ingin menuliskan keburukan atau kekurangan orang lain setiap hari, itu alasanku menghentikan tulisan tentangnya walau sebenarnya selama ini masalah dengannya banyak terjadi.

Hingga hari ini, dia sendiri mengetahui keputusan yang disampaikan kepadanya langsung. Dia tak perlu lagi bekerja seperti biasa, tapi justru secara mendadak menyiapkan barang-barang yang harus dibawanya pulang ke Indonesia. Termasuk menutup rekening tabungan di Bank, datang pamitan ke perusahaan dan urusan tetek bengek lainnya. Tentu dengan pengawalan ketat orang J-WEC dan IMM Japan.

Dalam keadaan seperti ini, menangis baginya tentu hal yang lumrah. Saat diberikan kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan pesan terakhir kepadanya tentu aku berusaha sedapat mungkin membesarkan hatinya, menyemangatinya untuk terus menjalani hidup dengan semangat di Indonesia walau aku tahu perasaan di hatinya tentu sangat sakit, sedih, malu, kecewa bahkan mungkin putus asa.

Baiklah, aku tak ingin mengenang keburukannya. Seperti jawabanku kepada Staf J-WEC aku katakan Adi bukan orang jahat. Bukan orang yang egois, juga bukan orang yang curang. Sungguh aku katakan bahwa dia melakukan semua itu bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaktahuan. Yah, kemampuan nalar dia terlalu rendah bila melihat pendidikan dia sebagai seorang sarjana. Aku bahkan menganggapnya sebagai anak SD dan tentu siapapun tak akan marah bila menghadapi tingkah laku seorang anak. Aku memakluminya. Yang patut disalahkan justru orang tua yang memaksakan dia berangkat dengan menempuh segala cara padahal tentunya kemampuan anak mereka tahu betul. J-WEC sendiri saat ini belum memiliki staf di Indonesia, tentu perekrutan diserahkan kepada orang depnakertrans dan seperti kita tahu bagaimana sifat lembaga di Indonesia.

Persoalannya program ini bukan yayasan sosial. Perusahaan adalah lembaga yang mencari keuntungan. Dan jujur kukatakan sampai tiga tahunpun aku yakin dia tidak akan bisa menjalani jenis kerja ini. Terlalu riskan kecelakaan dan perusahaan juga tak mau mengambil resiko itu. Menurutku pulang ke Indonesia memang jalan keluar terbaik.

Tak dapat kubayangkan perasaan Adi. Diluar hujan turun seharian. Di laut sebelah selatan Tokyo sedang ada badai yang bergerak mendekat dari selatan ke utara, membawa buti-butir hujan pagi ini. Kami berpelukan. Saling bermaafan dan dia mengucap "Mas,, sayounara ya,,,"
Dan airmatanya terus turun, seperti hujan di luar sana.

Tidak ada komentar: