Minggu, Juni 1

Kangen Mancing

Hari ini libur. Biasanya hari minggu aku tetep masuk, tapi karena kaki Tamon San sakit beberapa minggu ini kami nggak masuk lembur kecuali hari sabtu.

Jam dua sore ke Kawasaki Keiba (pacuan kuda) siapa tahu ada free market , yaitu orang jualan barang secara lesehan seperti tiap minggu di Gor Bekasi atau alun-alun Tegal. Barang yang dijual rata-rata second walau banyak yang belon pernah dipakai. Maklum mereka jualan juga pake mobil, dan bukan untuk mencari uang. Mungkin hoby aja kali yah,,, banyak yang menjual pakaian atau barang milik sendiri padahal belum pernah dipakai atau dipakai sekali trus jadi penghuni gudang. Karena buat membuang barang harus bayar, tentu menjualnya lebih asyik kayaknya. Tapi entahlah, aku sendiri tak tahu alasan mereka yang sebenarnya, tapi yang pasti bukan sebagai pekerjaan tetap. Mereka, para pedagang di freemarket jepang sudah mapan secara ekonomi menurutku.

Yah,,, namanya manusia, hobynya memang aneh-aneh.

Tapi rupanya hari ini ga ada jadwal freemarket di Kawasaki Keiba, mungkin di Stadion Yokohama Marinos tempat dulu dipakai untuk piala dunia sepak bola (disana ada telapak tangannya Oliver Khan kipper Jerman dan telapak kakinya Ronaldo dari Brazil).

Langsung cabut deh ke BookOff, sebuah toko barang second juga. lho kok maennya ke toko second semua yah..? Maklumlah kantong trainer, tapi yang jelas barang second disini bukan barang rusak dan ada garansinya. Harganya juga lumayan,,,

Sebelum ke BookOff dari Kawasaki keiba tentu melewati sebuah kompleks pelacuran. Eh ternyata siang-siang gini tuh perempuan udah pada berbikini dibalik kaca, senyum-senyum menunggu pembeli sementara banyak anak-anak kecil dengan ibunya (penduduk sekitar) cuek aja berjalan melewatinya.

Sampai di BookOff kubeli satu benda yang memang kucari, Joran pancing. Kemudian kerinduan pada Waduk Cacaban seperti dengungan nyamuk dimalam hari, sangat dekat namun tak tersentuh.

Sejak kecil Waduk Cacaban adalah sebuah tempat favoriteku untuk memancing. Dan aku menjadi saksi hidup betapa Waduk itu terus berubah, dan aku akan terus memancing disana sampai tua nanti meninggalkan sejenak hiruk pikuk peradaban.

Memancing bagiku sebuah ritual yang menyenangkan, dan bukan sebagai ajang lomba atau sebagainya, yang malah membuat memancing menjadi tidak lagi asyik menurutku.

Aku ingin menggelar tikar, mendirikan sebuah tenda kecil dan memancing di tepi waduk itu. Sendiri lebih baik,,, berdua tak masalah,,, bertiga apa boleh buat,,,, berempat pikir-pikir,,,, berlima atau lebih akan kutolak.

Tidak ada komentar: